Desa Jatimulyo Salah Satu Sentra Produksi Kolang-Kaling Terbesar Kulon Progo

0
90
Photo : Para petani sedang mengupas buah kolang-kaling/Mitrapost.com/Sugondo

Kulon Progo, Yogyakarta – Bulan ramadhan ternyata bukan hanya penuh pahala. Tetapi juga merupakan berkah bagi petani buah kolang-kaling di wilayah perbukitan Menoreh, Desa Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo.

Desa ini merupakan  salah satu sentra penghasil kolang-kaling terbesar di Kabupaten Kulon Progo karena setiap harinya wilayah ini dapat menghasilkan sedikitnya 1 ton kolang kaling kupasan.

Jika saat ini harga kolang-kaling kupasan mencapai Rp8 ribu per kilogramnya, maka setiap harinya dari wilayah ini dapat mengumpulkan pendapatan sebesar Rp 8 juta.

Baca juga : Minim Curah Hujan, Tanaman Padi di Desa Karangmulyo Tidak Dapat Tumbuh Dengan Baik

Apalagi saat pada bulan ramadhan seperti ini, pemesanan buah kolang-kaling meningkat hingga dua kali lipat dari hari biasa. Jadi setidaknya wilayah ini dapat menghasilkan pendapatan kurang lebih Rp16 juta perhari.

Di Desa Jatimulyo sedikitnya ada 40 orang petani kolang-kaling. Mereka bisa memproduksi kolang-kaling secara bergantian, rata-rata 20 orang petani bisa memasok kolang-kaling kupasan tiap hari dengan kapasitas produksi 50 kilogram perorang.

Kolang kaling memang menjadi salah satu menu khas saat bulan ramadhan tiba. Pasalnya buah yang satu ini akan menjadi menu andalan untuk berbuka puasa seperti kolak, es buah, hingga manisan.

Selain rasanya yang khas, buah kolang-kaling juga dipercaya menyembuhkan sakit ngilu persendian. Sehingga kebutuhan kolang–kaling di pasaran pun terdongkrak naik.

Baca juga : Gelar Razia Makanan, Tim Gabungan Kulon Progo Temukan Puluhan Makanan Kadaluwarsa

Proses pembuatan kolang-kaling sendiri bisa dibilang tidak mudah. Petani harus memanjat pohon tinggi dengan peralatan sederhana. Setelah dipetik kolang-kaling dipisahkan dengan tangkainya dan direbus selama dua jam. Barulah dikupas dan diambil bijinya yang berwarna putih dan kenyal.

Ratinem, seorang petani kolang-kaling mengungkapkan bahwa buah kolang-kaling pada umumnya dijual kepada tengkulak dan biasanya juga ada pengunjung yang membeli langsung.

Ratinem menambahkan dalam satu harinya ia mampu menghasilkan sekitar 50 kilo buah kolang-kaling yang dijual Rp8 ribu perkilonya. Dari penjualan tersebut pihaknya mengaku mendapat keuntungan sekitar Rp400 ribu perhari.

Sementara itu Yuhono, seorang pembeli kolang-kaling megaku lebih suka membeli langsung kepada petani karena harganya bisa naik menjadi Rp10 ribu bila membeli dari pasar.

Baca juga : Warga Blokade Jalur Tambang Batu Andesit di Kulon Progo

“Rencana untuk makanan berbuka sama keluarga, ada sebagian untuk dijual, sebagiannya dimasak sendiri. Kalau ada kolang-kaling itu kan rasanya mantap sekali, lebih segar. Apalagi di campur dengan gula jawa, itu enak sekali,” ungkapnya.

“Bayangkan seharian lapar dan haus, lalu berbuka dengan manisan kolang-kaling. Termasuk saya senang beli kolang-kaling itu untuk penyembuhan asam urat dan persendian yang sakit,” pungkas Yuhono.  (Sgd/Nov/Sht)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here