Begini Cara Perhitungan Kursi Dalam Pemilu Legislatif

0
72

Kota, Pati – Dalam pemilu, kita mengenal istilah perhitungan kursi yang merupakan variabel utama guna mengkonversi hasil perolehan suara. Sejauh ini metode perhitungan suara dalam kursi partai politik menggunakan dua rumpun metode yaitu Kuota dan Divisor. Divisor merupakan sebuah metode yang menggunakan nilai rata-rata tertinggi atau biasa disebut BP (Bilangan Pembagi). Sementara Metode Kuota merupakan metode yang menggunakan suara sisa terbesar.

Metode Divisor dibagi menjadi dua formula yaitu D’hondt dan Sainte Lague. Sedangkan metode Kuota dibagi menjadi dua formula juga yaitu Kuota Hare dan Kuota Droop. Dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) di Indonesia kita hanya mengenal 2 metode, yaitu metode Sainte Lague dan Kuota Hare.

Kuota Hare adalah metode perhitungan suara dengan rumus v/s. Yaitu menghitung jumlah total suara yang sah (vote/v) dibagi dengan jumlah kursi yang disediakan (seat atau s). Kemudian menghitung jumlah perolehan kursi masing-masing partai dengan cara  membagi perolehan suara partai dengan harga satu kursi yang telah ditentukan.

Sedangkan metode Sainte Lague merupakan metode yang menggunakan nilai rata-rata tertinggi. Partai yang mendapat nilai rata-rata tertinggi akan mendapat kursi pertama. Nilai rata-rata tersebut akan terus turun berdasarkan nilai bilangan pembagi. Prosedur tersebut terus dilakukan hingga kursi yang tersedia habis.

Baca juga : Sukseskan Pilgub Jateng, Endro Dorong Masyarakat Untuk Tidak Golput

Sebelumnya, metode yang paling sering digunakan saat pemilu di Indonesia adalah Kuota Hare. Namun metode Kuota Hare atau yang biasa disebut metode Bilangan Pembagi Pemilih (BPP) ini tidak akan dipakai lagi dalam Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD pada tahun 2019 mendatang. Sebaliknya perhitungan pemilu tahun 2019 nantinya akan memakai metode Sainte Lague Murni.

Berikut ini merupakan contoh perhitungan kursi.

Misal dalam Pileg didapatkan hasil perolehan suara sebagai berikut :

  • PDIP : 210.000
  • Gerindra : 150.000
  • Golkar : 60.000
  • Demokrat : 25.000
  • Partai-partai kecil
  1. Perhitungan menggunakan Kuota Hare

Misalnya jatah kursinya ada 4 dengan harga 1 kursi 200.000 suara.

Maka : Kursi I untuk PDIP, sehingga sisa suaranya :

  • PDIP : 10.000
  • Gerindra : 150.000
  • Golkar : 60.000
  • Demokrat : 25.000

Karena masih ada 3 kursi yang tersedia, maka Gerindra mendapat kursi II, Golkar mendapat kursi  III, dan Demokrat mendapat kursi IV.

Baca juga : Kegiatan Tim Sedulur Ganjar dan Posko ISC (Imam Suroso Center) Saat Melakukan Patroli dan Pengawasan TPS-TPS yang Rawan Kecurangan

  1. Perhitungan menggunakan Sainte Lague Murni

Perhitungan menggunakan metode Sainte Lague Murni ini membagi perolehan suara dengan 1, 3, 5, 7, dan seterusnya.

Maka :

  • Kursi I untuk PDIP karena meraih rata-rata tertinggi (PDIP = 210.000, Gerindra = 150.000, Golkar = 60.000, Demokrat = 25.000).
  • Kursi II untuk Gerindra karena meraih rata-rata tertinggi (PDIP 210.000/3 = 70.000, Gerindra = 150.000, Golkar = 60.000, Demokrat = 25.000).
  • Kursi III untuk PDIP karena meraih rata-rata tertinggi (PDIP 210.000/3 = 70.000, Gerindra 150.000/3 = 50.000, Golkar = 60.000, Demokrat = 25.000)
  • Kursi IV untuk Golkar karena meraih rata-rata tertinggi (PDIP 210.000/5 = 42.000, Gerindra 150.000/3 = 50.000, Golkar = 60.000, Demokrat = 25.000).

Jadi totalnya :

  • PDIP mendapat 2 kursi
  • Gerindra mendapat 1 kursi
  • Golkar mendapat 1 kursi
  • Demokrat tidak mendapat kursi.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here