oleh

Tingginya Harga Kedelai, Dinindakopukm: Stok Masih Aman

Rembang, Mitrapost.com – Tren kenaikan kedelai sebesar 35 persen tak hanya dirasakan oleh produsen tempe Rembang saja, melainkan masuk tingkat internasional.

Dari kacamata Dinindakopukm Kabupaten Rembang, jika mengacu pada bursa perdagangan harga kedelai yang saat ini dirasakan oleh pengusaha tempe masih terbilang stabil. Hal itu diungkapkan oleh Kabid Perdagang, Tri Handayani Saat ditemui di kantor dinasnya pada Selasa (5/01/2021).

Baca juga: Dinkes Rembang Siap Laksanakan Vaksinasi, Ini 4 Kelompok Prioritas

“Data dari kementerian perdagangan stok di Indonesia aman. Kenaikan ini sebenarnya mengikuti tingkat dunia. Di tingkat dunia meningkat karena banyak permintaan. Tapi kalau di Indonesia sampai saat ini stok masih aman,” ungkapnya.

Tri memang tidak menampik adanya sedikit kenaikan dari harga sebelumnya. Namun, berdasarkan peninjauan yang dilakukan di berbagai pasar, harga kedelai cukup stabil.

Baca juga: Harga Kedelai Melambung, Produksi Tempe Rembang Turun

Stabilnya harga itu berlaku pada dua komoditas kedelai yang dikomsumsi masyarakat Kabupaten Rembang. Tri menyebutkan untuk komoditas impor harga pasar menyentuh kisaran angka Rp8000,- sampai Rp12000,-. Sedangkan untuk kedelai lokal mencapai  harga Rp6.000 hingga Rp10.000.

Namun sebelumnya, kisaran harga ini sempat mengalami kebingungan bagi pengusaha tempe di Rembang. Pasalnya tidak hanya berurusan dengan harga kedelai, pedagang juga menghadapi situasi penjualan yang masih terbilang sepi.

Baca juga: Peduli Pasien Covid-19, Rembang Gencarkan Donor Plasma Konvalensen

Menanggapi hal itu, Tri mengaku pemerintah tidak dapat melakukan bantuan berupa subsidi guna menekan angka ini. Pasalnya dari pihaknya mencatat ada dua komodias yang selama ini tidak mendapat swasembada dari pemerintah yakni bawang putih dan kedelai

Selain itu, pihak pemerintahan swasembada yang diberikan sejauh ini hanya kebutuhan pokok saja. Di mana subsidi itu dari pengakuan Tri biasanya tersalurkan dalam program pasar murah yang menyasar kebutuhan seperti besar dan minyak.

Baca juga: Kudapan Sehat Ala Masyarakat Pesisir Rembang

“Kalau disuruh nekan subsidi, yang jelas tidak ada anggaran. Ya itu kami gak bisa support, karena ini gejala internasional.  Sementara stok Indonesia aman.  Karena ini ada kejadian tidak bisa terjangkau sebelumnya, kalau kedelai naik. Tapi nanti kalau berkepanjangan kita ajukan di akhir perubahan 2020 tidak ada. Hanya untuk bahan makanan pokok,” ungkapnya.

Guna menyiasati tingginya harga kedelai, Tri berharap agar masyarakat mampu memilih makanan alternatif lain yang mengandung protein. “Tapi kami harapkan masyarakat beralih dengan makan sumber protein lain.  Kalau sudah tidak bisa tempe dan tahu, masyarakat Rembang harus beralih ke ikan,” tutupnya.(ADV/AA/AZ/SHT)

Baca juga: 

Jangan lupa kunjungi media sosial kami, di facebook, twitter dan instagram

Redaktur: Atik Zuliati

 

Komentar

Berita Terkait