oleh

BPP Pucakwangi Ungkap Prospek Penjualan Tembakau 2021 Kurang Bagus

Pati, Mitrapost.com– Tembakau merupakan salah satu komoditas pertanian lokal yang dihasilkan di Kecamatan Pucakwangi.

Tanaman ini dibudidayakan di Desa Mojoagung dan Desa Sitimulyo, Kecamatan Pucakwangi.

Luasan lahan tembakau di Kecamatan Pucakwangi mencapai 35 hektare. Setiap 1 (satu) hektar lahan terdapat 27.000 sampai dengan 30.000 batang.

Petani tembakau di Pucakwangi mampu menghasilkan 2 (dua) ton tembakau kering dalam sekali panen pada luasan 1 (satu) hektare.

Baca Juga: Putus Rantai Distribusi Panen, Dispertan Pati Uji Coba Aplikasi E-Panen

Namun, kini petani tengah terkendala dalam hal penjualan hasil panennya. Sebab, beberapa tahun terakhir pihak PT. Sadhana Arif Nusa selaku pembeli utama tembakau di Kabupaten Pati memutuskan untuk tidak mengambil sepenuhnya hasil panen tembakau dari petani.

Baca Juga :   Angkatan Ke-5 Peserta Latsar CPNS Pati Ikuti E-Learning Mulai Hari Ini

Pemutusan kerjasama ini dilakukan karena adanya penurunan kualitas.

“Hasil panen tembakau petani dari Mojoagung dan Sitimulyo tidak laku semua. Karena masih ada beberapa tembakau yang kualitasnya buruk. Sehingga perusahaan tidak mau membeli, takut rugi,” ujar BPP Pucakwangi kepada Mitrapost.com, Kamis (29/4/2021)

Baca Juga: Kadiskominfo Pati Ungkap Klaster Covid-19 di Gabus Karena Mudik

Menurut Koordinator Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Pucakwangi, Wicaksana Adinugraha, prospek penjualan tembakau di Pucakwangi mengalami penurunan sejak 2020.

Selain itu, Kepala Seksi (Kasi) Tanaman Semusim Bidang Perkebunan Dinas Pertanian (Dispertan), Tri Yulianto menjelaskan bahwa di tahun 2020 banyak petani tembakau di Kabupaten Pati mengalami kegagalan panen.

Kegagalan dikarenakan musim hujan yang intens. Hal tersebut berakibat pada kondisi tembakau yang menjadi basah sehingga tidak masuk dalam kualitas yang diharapkan perusahaan.

Baca Juga :   LPJ APBD 2020 Disahkan, Dewan Beri 49 Rekomendasi

Baca Juga: Ubi Kayu Gunungwungkal Jadi Penyuplai Bahan Baku Tapioka di Kabupaten Pati

Selain faktor buruknya kualitas, Siswanto selaku petani tembakau dari Kelompok Tani (Poktan) Wulu Wektu, Desa Mojoagung sempat mengatakan bahwa harga yang ditentukan dari PT. Sadhana Arif Nusa tidak jelas.

“Selama Pandemi Covid-19 harganya kurang transparan,” ungkapnya

Sehingga dalam dua tahun terakhir petani merasa pesimis untuk menjual hasil panennya kepada perusahaan tersebut.

Perlu diketahui, kerjasama antara petani tembakau dengan PT. Sadhana Arif Nusa dilakukan demi memberikan bantuan berupa program pembimbingan teknis, mulai dari pembibitan, pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan, dan penanganan pasca panen. (*)

Baca Juga:

Baca Juga :   News Grafis : Pengelola Prostitusi Diberi 10 Hari

 

Jangan lupa kunjungi media sosial kami, di facebook, twitter dan instagram

Redaktur: Mila Candra

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mitrapost.com . Mari bergabung di Grup Telegram "Mitrapostcom_Official", caranya klik link https://t.me/Mitrapostcom_Official, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Jangan lupa kunjungi media sosial kami

 

Video Viral

Komentar

Berita Terkait