oleh

Barang Daur Ulang Sampah dari Pati Terjual Hingga ke New Zealand

Pati, Mitrapost.com – Sampah rumah tangga mendominasi sampah-sampah yang diproduksi oleh masyarakat. Selain bisa mencemari lingkungan, sampah-sampah ini juga dinilai tak mempunyai nilai ekonomi.

Namun, anggapan itu berbeda bagi salah satu warga Kabupaten Pati bernama Evi Sri Suprihati. Wanita asal Desa Panggungroyom, Kecamatan Wedarijaksa ini mampu menyulap sampah-sampah menjadi bernilai ekonomis.

Bpkad Pati

Sampah bungkus kopi, minyak goreng, koran maupun sampah apapun, jika sudah di tangannya akan menjadi berbeda hasilnya. Benda-benda tersebut tidak akan lagi disebut sampah, melainkan menjadi barang dengan daya jual, bahkan sampai merambah ke pasar mancanegara.

Begitulah kegiatan perempuan yang sering dipanggil Evi itu. Evi telah memulai pengolahan limbah rumah tangga sejak 2012 lalu. Beragam produk telah hasilkan, mulai dari kotak pensil hingga tas bergaya untuk para ibu-ibu.

Baca Juga :   Disnaker Pati Naikkan UMK Pati 2021 Jadi Rp1.953.000

Ia mengaku termotivasi membuat sejumlah produk dari bahan-bahan sampah itu karena keprihatinan terhadap sampah yang ada di sekitar lingkungannya. Baginya banyak orang tidak sadar sampah-sampah yang mereka buang dapat diolah kembali dan menambah uang jajan maupun meringankan uang belanja.

“Agar sampah tidak selamanya sampah, lumayan kan kalau untuk menambah uang jajan,” kata Evi ketika menjelaskan motivasi membuat kerajinan dari limbah rumah tangga tersebut.

Dalam produksinya, Evi mengerjakan sendiri kerajinan yang dibuatnya ini, Ia dapat mengumpulkan banyak sekali sampah. Ia memisalkan, dalam satu produk seperti kotak pensil buatannya dapat mendaur ulang sebanyak 151 pices plastik. Atau saat membuat tas dari bungkus minyak goreng ia bisa mengurangi 10 hingga 20 bungkus minyak.

Baca Juga :   Angka Kasus Covid-19 Mulai Terkendali, Saatnya Genjot Perekonomian

Meski begitu Evi masih merasa kesulitan mengajak orang-orang di sekitarnya untuk ikut andil. Bahkan dirinya sempat melakukan pelatihan bersama Balai Latihan Kerja (BLK) untuk mengolah sampah, akan tetapi belum banyak orang di sekitar rumahnya  melirik kegiatan yang ia geluti itu.

“Harapannya bisa mengurangi pencemaran, dan ingin masyarakat melek lingkungan dan pilah-pilah sampah buat diolah kembali,” tuturnya.

Produk yang dihasilkan oleh  Evi pun telah melalang buana. Mulai dari penjualan di dalam kota, ke Semarang hingga yang terjauh sampai ke New Zealand. Meski ia menyadari promosi yang ia lakukan selama ini hanya lewat teman ke teman. “Kalau terjauh di New Zealand, dibawa teman ke sana,” imbuh Evi.

Baca Juga :   Dispertan Pati Ajak Petani Terapkan Penanaman Jajar Legowo 2:1

Untuk saat ini dirinya menjual barang kerajinannya dengan harga antara Rp15 ribu hingga Rp 200 ribu. Harga dipatok bergantung ukuran dan kerumitan pengerjaannya. Sedangkan di sisi lain, dirinya juga mengerjakan pesanan batik tulis yang memanfaatkan pewarna alam hingga pembuatan tas dari kain eco print maupun batik.

“Biasanya bisa pesen lewat WA, atau akun Intragram @levi5758,” tandasnya.  (*)

Jangan lupa kunjungi media sosial kami

 

Diskominfo Pati Gelar Pertunjukan Ketoprak Virtual Dalam Upaya Tekan Peredaran Rokok Ilegal

Komentar

Berita Terkait