oleh

34 Pinjol Ilegal di Jateng Ditertibkan Pihak Kepolisian

Semarang, Mitrapost.com – Sebanyak 34 pinjaman online (pinjol) illegal yang ada di Kawasan Jawa Tengah, ditertibkan oleh pihak kepolisian Jateng.

Dewasa ini, pinjol tengah meresahkan masyarakat, oleh karena itu, pemerintah melalui pihak kepolisian pun menindak tegas. Beberapa pihak yang merasa dirugikan mengadukan beberapa aplikasi pinjol illegal ke pihak yang berwajib.

Pbb - Mitrapost.com

Banner Bphtb - Mitrapost.com

Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Jateng Kombes Johanson Ronald Simamora mengatakan, dari laporan korban ke Polda Jateng, tercatat ada 34 nama aplikasi pinjol ilegal. Nama-nama aplikasi itu telah dikantongi, untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

“(Sebanyak) 34 pinjaman online ilegal yang diadukan di Polda Jateng. Ini adalah data yang kami terima. Ini adalah pinjaman online ilegal,” kata Johanson, saat konferensi pers di Mapolda Jateng, beberapa waktu lalu.

Ia mengatakan bahwa, ke-34 pinjol illegal tersebut masih dalam tahap pemeriksaan. Apakah mereka saling terkait atau tidak. Polda Jateng juga akan melakukan kerjasama dengan Bareskrim, dan Polda daerah lainnya.

Baca Juga :   Food Estate, Jaga Stabilitas Produk Pertanian

Pinjol illegal diketahui telah meresahkan masyarakat, bahkan terdapat kasus di Wonogiri, seorang ibu bunuh diri akibat tak mampu membayar hutang kepada pihak pinjol.

“Seperti kasus di Wonogiri, ibu yang bunuh diri. Saat dia pinjam di aplikasi, tidak bisa bayar, dia pinjam lagi di aplikasi lain untuk menutupi utangnya. Ditagih lagi, utang lagi sampai ada 10 aplikasi yang menagih. Yang bersangkutan tidak tahan sehingga bunuh diri,” bebernya menyebut salah satu kasus yang terjadi akibat dampak pinjol ilegal.

Yang terbaru, Polda Jateng telah mengamankan empat orang dari salah satu aplikasi pinjol ilegal. Satu orang diantaranya telah ditetapkan menjadi tersangka. Sedangkan lainnya, masih berstatus sebagai saksi.

Awalnya, kata Johanson, seorang warga yang jadi korban melakukan pinjaman di salah satu aplikasi pinjol ilegal, September 2021. Korban dijanjikan bunga rendah dengan durasi pinjaman hanya satu bulan. Sebelumnya, korban bersedia untuk menyetujui data nomor kontak, hingga foto di galeri ponselnya diakses aplikasi pinjol itu.

Baca Juga :   Percepat Tracing, Ganjar Minta Adanya Laboratorium Tes PCR

“Pada September 2021 dari perusahaan pinjol ilegal ini mengirimkan SMS kepada korban. Bahwa sudah terkirim dana Rp2,3 juta dan Rp1,3 juta. Korban mengecek ke tabungan, ternyata nihil. Tiga hari kemudian, debt collector dari pinjol ilegal tersebut menelepon korban memberitahu sudah jatuh tempo. Kalau Anda tidak membayar maka foto Anda akan saya kirim ke semua WA contact bahwa Anda adalah penipu,” terangnya.

Bahkan, jika korban tidak melakukan pembayaran, maka akan diancam diedit fotonya menjadi vulgar atau fotonya menjadi foto porno.

“Sangat mirip. Sehingga korban merasa malu. Ada pemerasan, ada ancaman, ada konten asusila,” imbuhnya.

Pada Oktober 2021, korban lapor ke Diskrimsus Polda Jateng. Pihaknya segera membentuk tim khusus untuk penindakan. Ternyata perusahaan tersebut berada di Yogyakarta. Sebuah bangunan ruko diamankan. Dari dalam ruko, polisi mengamankan tiga orang. Terdiri dari debt collector, HRD, dan direktur.

Baca Juga :   Gubernur Jateng Dukung Penutupan Exit Tol

Di ruko terdapat 300 unit komputer. 150 unit diantaranya masih aktif digunakan. Dan 10 unit komputer dibawa sebagai barang bukti. Adapun bentuk rukonya menjadi kantor penagihan yang beroperasi sejak enam bulan lalu, dengan korbannya ada 35 orang.

“Ini pemodalnya dari warga asing. Kita masih dalami pengejaran. Karyawan ada 200 (orang). Karena pandemi mereka dirumahkan,” jelasnya lebih lanjut.

Diungkapkan, setiap debt collector atau tukang tagih, akan menerima 20 persen dari jumlah penagihan sebagai bonus. Dengan pinjaman maksimal Rp10 juta. Bila tak membayar, bunganya bisa mencapai ratusan juta. Seperti di Salatiga, meminjam Rp25 juta, dan bunganya bertumpuk mencapai Rp250 juta.

“Rata-rata berdasarkan keterangan korban mereka berasal dari ketidaktahuan. Mereka lagi butuh. Mereka terlilit masalah ekonomi,” ujarnya. (*)

 

 

Jangan lupa kunjungi media sosial kami

 

Diskominfo Pati Gelar Pertunjukan Ketoprak Virtual Dalam Upaya Tekan Peredaran Rokok Ilegal

Komentar

Berita Terkait