oleh

Disdag Semarang Ungkap Penyebab Harga Cabai Tinggi

anda ingin cepat kaya kerja sambil jalan - jalan di luar negeri? dan dapatkan gaji jutaan rupiah!! hubungi 0821-3869-9954

Semarang, Mitrapost.com – Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Semarang mengungkap penyebab harga cabai yang tinggi.

Tidak hanya cabai, kepala Disdag kota Semarang, Nurkholis juga mengatakan bahwa terdapat sejumlah kebutuhan pokok lain yang juga mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi. Diantaranya adalah bawang dan juga daging ayam yang sudah mengalami kenaikan sejak beberapa waktu lalu.

Sebagai informasi, harga cabai saat ini berkisar mulai Rp60 ribu – Rp85 ribu per kilogram. Harga tersebut bergantung pada jenis dan kualitas cabai. Sedangkan harga bawang merah saat ini berkisar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu dan bawang putih antara Rp32 ribu – Rp35 ribu.

“Paling tinggi cabai setan sampai Rp80 ribu, bahkan saat ini ada laporan hingga Rp85 ribu. Ayam sudah sejak kemarin-kemarin. Daging sepertinya masih stabil,” terang Nurkholis.

Baca Juga :   Kampung Flora Diharapkan Jadi Wisata Edukasi Tanaman Hias di Semarang

Nurkholis menyebut, adanya kenaikan terhadap sejumlah bahan pokok tersebut, bukanlah disebabkan karena faktor distribusi. Melainkan terdapat kemungkinan karena faktor produksi.

Salah satunya adalah cuaca ekstrem yang dapat mempengaruhi total produksi komoditas, seperti halnya cabai dan bawang.

“Pancaroba mempengaruhi produksi. Kalau distribusi masih berjalan baik. Namanya faktor produksi itu ya gagal panen, biasanya sekian ton berkurang menjadi tidak maksimal,” jelasnya.

Nurkholis menyebut, pasokan cabai dan bawang di Kota Semarang berasal dari daerah sekitar Kota Lunpia dan Jawa Timur. Untuk bawang merah mayoritas dari wilayah Tegal, Brebes, dan sekitarnya. Sedangkan, cabai dari Bandungan dan kota lain.

Namun, meski terjadi kenaikan, dia memastikan tidak ada kelangkaan produk di pasaran.

Baca Juga :   1025 Atlet Pelajar Ikuti Popda Jateng Nonvirtual 2021

Hingga saat ini pemerintah daerah belum berencana menggelar operasi pasar. Pihaknya masih menunggu kebijakan dari pemerintah pusat terkait upaya tindak lanjut yang perlu dilakukan, misalnya impor atau upaya lain untuk kembali menstabilkan harga.

Faktor produksi juga menjadi kewenangan dari pertanian. Sehingga, pihaknya hanya memiliki kewenangan pada faktor distribusi.

“Kami paling memantau apakah ada unsur-unsur penimbunan. Ini bisa kami tanya kepada pedagang-pedagang utamanya yang grosir. Kalau tengkulak yang menimbun sepertinya tidak karena bawang dan cabai itu sesuatu barang yang tahan lama,” ujarnya. (*)

 

 

Komentar