oleh

Tokoh-tokoh Dunia yang Berjuang Hentikan Rasisme

Mitrapost.com – Perilaku rasis masih sering terjadi meskipun kini sudah memasuki abad ke-21. Ternyata canggihnya teknologi dan modern-nya zaman tak membuat pola pikir masyarakat semakin berkembang. Bahkan kini kasus-kasus berbau rasisme terjadi dalam bentuk verbal dan non-verbal.

Tindakan yang menodai kemanusiaan ini menjadi pembangkit kesadaran umat manusia di muka bumi untuk dapat menghargai sesama.

Mencegah adanya perlakuan rasisme, berbagai social justice warrior pun menggemakan tagar “Black Lives Matter” di media sosial. Kampanye tersebut demi mendukung pemenuhan hak-hak bagi seluruh umat manusia demi keadilan dan kesetaraan.

Berikut ini sosok-sosok pejuang keadilan menentang rasisme di dunia:

1. Black Panther Party

Black Panther Party memiliki nama asli Black Panther Party for Self-Defense, yang ditemukan pada tahun 1966 di Oakland, California oleh Huey P. Newton dan Bobby Seale. Pada awalnya, kelompok ini bertujuan untuk membantu orang-orang keturunan Afrika-Amerika terhindar dari kekerasan aparat keamanan pada saat itu, seperti yang dikutip dari Britannica.

Pada masa kejayaannya, mereka memiliki anggota lebih dari 2.000 orang. Bahkan mereka memiliki pendukung di luar Amerika seperti Jepang, Inggris, dan Cina.

Salah satu program dari Black Panther ini adalah menghapus kekerasan dari pihak aparat kepada orang berkulit hitam, atau Afrika-Amerika, berdasarkan kutipan History, dengan nama “The Ten-Point Program”.

“The Ten-Point Program” ini membantu orang Afrika-Amerika yang tidak memiliki rumah, ataupun pekerjaan.

Baca Juga :   Bantahan Pigai terkait Rasisme dalam Cuitan ‘Jangan Pernah Percaya Jokowi dan Ganjar’

Bahkan berdasarkan kutipan dari NPR, beberapa orang dari kelompok Black Panther ini mengikuti pihak aparat keamanan dengan senjata untuk menjaga diri mereka, dan menolong orang Afrika-Amerika yang kerap menjadi korban pihak kekerasan.

Bahkan kelompok Black Panther ini menjadi salah satu pelopor gerakan Afrika-Amerika lainnya dalam amal, seperti memberi makan orang-orang tunawisma.

Pada saat itu banyak kekerasan yang di lakukan kepada orang berkulit hitam, dan stigma yang sangat tajam pun membuat kondisi keadaan tidak menjadi baik.

Pada tahun 1970an, kelompok Black Panther ini dianggap mengancam oleh J Edgar Hoover, hal ini di kutip dalam Britannica dan History. Pasalnya Black Panther ini di anggap sebagai kelompok gang yang dapat mengancam Amerika, meskipun Black Panther telah memiliki sejumlah kegiatan sosial yang membantu masyarakat lain.

Hal ini juga di karenakan kontroversi yang sempat menyelimuti Black Panther terlibat kasus kekerasan bersama pihak aparat keamanan pada tahun 1967.

Kemudian salah satu anggota Black Panther pun terbunuh oleh sesama anggota akibat salah pemahaman pada tahun 1969. Anggota tersebut adalah Alex Rackley, yang dicurigai sebagai polisi.

2. Black Lives Matter

Alicia Garza, Patrisse Cullors, Opal Tometi adalah tiga perempuan yang mendirikan Black Lives Matter. Mereka memulai gerakan ini sejak 2013 lalu, seperti yang dikutip dari situs Black Lives Matter.

Gerakan ini terasa dekat bagi ketiganya karena mereka memulai inisiatif ini berdasarkan pengalaman masing-masing. Mereka awalnya merespon pembunuhan yang terjadi terhadap Trayvon Martin yang kemudian menjadi gerakan global. Banyak dari selebiti, atlet hingga politikus mendukung gerakan mereka.

Baca Juga :   Tesla Didenda Rp 1,96 Triliun Gara-gara Rasisme

Ketika George Floyd meninggal, gerakan ini mendapatkan perhatian dari seluruh dunia. Perhatian ini termasuk dari orang Indonesia. Di Indonesia sendiri, rasisme masih terjadi terutama pada kaum minoritas.

Gerakan Black Lives Matter pun mendapatkan cuitan yang cukup banya di media sosialnya, terutama pada 2016, dengan 41 juta tweets.

Orang-orang Asia pun dapat mendukung gerakan ini dengan memberi tahu kerabat bahwa semua orang layak mendapatkan kehidupan yang sama. Tak hanya itu, kita juga dapat menapresiasi kultur mereka tanpa harus melakukan apropriasi kultur. Dan mengusahakan untuk tidak membuat stereotip orang berkulit gelap, seperti yang dikutip dari VICE.

3. Martin Luther King Jr.

Martin Luther King Jr. menjadi salah satu tokoh yang paling terkenal, apalagi dengan pidatonya “I Have a Dream”. Pidato tersebut didengarkan oleh 250,000 orang yang melakukan aksi demo untuk keadlian rasisme.

Dirinya mendapatkan The Nobel Peace Prize pada tahun 1964. Pada tahun 1968 Martin Luther King Jr. di bunuh oleh tindak rasisme.

Martin Luther King Jr. sendiri menganut ajaran Gandhi untuk tidak melakukan kekerasan. Dirinya memperjuangkan hak-hak orang berkulit hitam kepada pemerintah sejak tahun 1955, seperti yang dikutip dari situs Nobel Prize.

4. Malcolm X

Sebagai seorang orator berbakat, Malcolm X mendesak orang kulit hitam untuk menyingkirkan belenggu rasisme “dengan cara apa pun yang diperlukan,” termasuk kekerasan. Malcom X sendiri terinspirasi dari gerakan Martin Luther King Jr. yang melakuakn protes tanpa kekerasan.

Baca Juga :   Spanduk Rasisme Bertebaran di Kota Surabaya

Ayahnya yang seorang pendeta, Earl Little, juga terlibat dalam hal-hal aktivisme, menyebabkan keluarganya sering menjadi target rasisme. Ketika di sekolah, Malcolm X menjadi salah satu murid minoritas, namun karena kepintarannya, dirinya pun menjadi ketua kelas. Dirinya memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah di usianya yang ke-15. Salah satu guru dari Malcolm X mengatakan bahwa setidaknya dia harus berpikir realistis untuk tidak memiliki mimpi yang besar. Kala itu, Malcolm X mengatakan cita-citanya sebagai pengacara, seperti yang dikutip dari Biography.

Kehidupan Malcolm X sebagai pejuang orang-orang kulit hitam pun tidak mudah, dirinya harus bekerja beberapa pekerjaan dan sempat masuk penjara. Namun dalam penjara itu, dirinya membaca buku sebanyak yang dia bisa lakukan. Malcolm X sendiri dibunuh pada tahun 1965.

5. Nelson Mandela

Nelson Mandela pernah berkata bahwa rasisme sama-sama merendahkan baik orang yang melakukan rasisme dan korbanya, seperti yang dikutip dari United Nations.

“Kita harus memastikan bahwa warna, ras dan jenis kelamin hanya menjadi hadiah yang diberikan Tuhan kepada kita masing-masing dan bukan tanda atau atribut yang tidak terhapuskan yang memberikan status khusus kepada siapa pun,” ujar Nelson Mandela dalam sebuah pidatonya itu.

Nelson Mandela melanjutkan pidatonya, agar orang-orang tidak berhenti untuk menghapus tindak rasisme yang saat ini masih terjadi.

Itulah lima tokoh pejuang rasisme yang wajib kalian ketahui, tidak mudah memang menghapus rasisme yang masih terjadi. Namun, setidaknya kita harus belajar bersama untuk hidup saling menghargai. (*)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mitrapost.com  di Googlenews. silahkan Klik Tautan https://bit.ly/googlenewsmitrapost dan jangan lupa tekan tombol "Mengikuti"

Jangan lupa kunjungi media sosial kami

 

Video Viral