Mitrapost.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 2 Februari 2026 ditutup melemah tajam sebesar 4,9% ke level 7.922,73, menyusul pelemahan yang merata di hampir semua sektor saham, terutama sektor barang baku yang anjlok di atas 10%.
Sentimen negatif ini dipicu oleh gejolak global dan regional serta kekhawatiran atas transparansi pasar modal Indonesia yang masih mendapatkan sorotan dari MSCI, di mana pihaknya telah memperingatkan potensi penurunan status pasar jika praktik tata kelola tidak cepat diperbaiki.
Oleh sebab itu, kondisi pasar pada 4 Februari 2026 masih cenderung risk-off, lantaran ketidakpastian atas respon kebijakan yang masih menjadi katalis negatif utama. Meski begitu, sejumlah upaya komunikasi telah dilakukan oleh pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun Bursa Efek Indonesia (BEI).
BBCA – PT Bank Central Asia, Tbk
Melansir dari IDX Channel, saham BBCA diketahui menutup perdagangannya pada angka Rp7.600. Sementara, range kenaikan hariannya berpotensi tipis ke level Rp7.670 — Rp7.767, di tengah posisinya sebagai fokus aksi akumulasi defensif pada saat koreksi pasar.
Sebagai bank dengan likuiditas dan kapitalisasi tertinggi, BBCA biasanya menjadi safe haven relatif ketika pasar jatuh. Hal ini membuat tekanan jual lebih terbatas dibandingkan dengan sektor komoditas/industri.
TLKM – PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk
Saham ini menutup perdagangannya di level Rp3.500 dan teranalisa pada kenaikan potensinya yang mencapai angka Rp3.524 — Rp3.563. Range tersebut berdasar pada posisinya sebagai perusahaan utilitas/telekomunikasi dengan pendapatan stabil dan kurang sensitif terhadap siklus makro tajam. Hal tersebut menjadikan saham ini sering dijadikan sebagai pilihan investor untuk flight to safety dalam fase risk-off.
UNTR – PT United Tractors, Tbk
Meskipun tergolong siklikal yang ikut tertekan, saham UNTR dipandang sebagai proxy permintaan infrastruktur jangka menengah. Oleh sebab itu, saham ini menutup perdagangannya di angka Rp24.450 dan teranalisa kenaikannya pada level Rp24.817 — Rp25.380. Dibandingkan dengan saham komoditas murni, aktivitas kontraktual biasanya memberikan support teknikal di area valuasi rendah.
PGAS – PT Pertamina Gas Negara, Tbk
PGAS menutup perdagangannya ke level Rp2.180 dan mendapati analisa kenaikan sebesar Rp2.200 — Rp2.235. Hal tersebut berasal dari dampak volatilitas harga energi globalnya yang relatif moderat. Kemudian, sebagai utilitas gas domestik, kinerja fundamental PGAS juga tercatat lebih stabil dibandingkan dengan sektor energi berbasis komoditas.
BBRI – PT Bank Rakyat Indonesia, Tbk
Meski tekanan jual masih ada, rekam jejak fundamental di segmen mikro yang terlihat dari penutupannya di angka Rp3.830 menjadikan BBRI relatif menarik untuk rebound teknikal jangka pendek. Hal tersebut dapat dilakukan jika aksi value hunting investor domestik terjadi. Hasilnya, analisa kenaikan mencapai Rp3.876 — Rp3.945. (*)
Disclaimer: Perlu diingat bahwa analisis ini hanya berdasarkan data yang tersedia dan tidak dapat menjamin hasil yang pasti. Pastikan Anda melakukan riset dan analisis sendiri sebelum membuat keputusan investasi.

Redaksi Mitrapost.com







