Gawat! Bendung Karet Bocor, Pertanian Padi di Aliran Sungai Juwana Terancam Gagal Panen

Pati, Mitrapost.com Sektor pertanian padi di Aliran Sungai Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah terancam gagal panen. Hal itu diakibatkan Bendung Karet di Desa Bungasrejo, Kecamatan Jakenan mengalami kebocoran.

Kebocoran itu dinilai bakal berdampak terhadap kondisi air di wilayah tersebut. Pasalnya, bendung karet berfungsi supaya air di sungai tidak mengalir ke laut.

Ketua Serikat Petani Pati (SPP), Kamelan mengatakan, bocornya bendung karet itu dinilai bakal membuat air Sungai Juwana cepat surut. Hal itu pun akan berdampak terhadap perkembangan pertanian padi di wilayah tersebut.

Ia menyebut, ada ribuan hektare lahan padi yang bergantung kepada air yang berada di area bendung karet itu.

“Sepanjang Sungai Juwana ini ada ribuan hektar padi yang perlu pengairan. Padahal ini musim kemarau, hujan jelas sulit untuk didapat. Sehingga satu-satunya pengairan diambilkan dari Sungai Juwana,” ujar Kamelan.

Selain itu, dia menyebut, bocornya bendung karet juga berpengaruh terhadap naiknya air laut. Menurutnya, jika air laut itu naik juga akan mempengaruhi kondisi tanaman padi di wilayah tersebut.

“Kalau air laut naik jelas tidak bisa untuk pengairan tanaman padi,” ucapnya.

Dia bilang rata-rata lahan pertanian padi di sepanjang Sungai Juwana itu masih membutuhkan suplai air. Pasalnya usia tanaman padi rata-rata 40 hari.

“Di daerah aliran Sungai Juwana ini masih ada yang persemaian dan sampai yang paling tua umur 40 harian. Artinya masih membutuhkan air sampai 4 bulan ke depan,” terangnya.

Ia menyampaikan, apabila kebocoran bendung karet ini dibiarkan, lahan pertanian padi akan terancam kekeringan. Petani pun akan mengalami kerugian puluhan juta. Bahkan, saat ini harga gabah dapat mencapai Rp40-Rp50 juta per hektar.

“Potensi kerugian itu, sekarang harga gabah lumayan, per hektar bisa sampai Rp40-50 juta dikalikan ribuan hektare. Biaya per hektar itu bisa Rp25 juta. 40 hari 50 persen biaya yang sudah dikeluarkan,” katanya.

Kamelan menaruh harapan kepada pihak terkait untuk segera memperbaiki bendung karet yang mengalami kebocoran. Dengan demikian suplai air untuk tanaman padi dapat maksimal.

Terpisah, Juru bicara Jaringan Masyarakat Peduli Sungai Juwana (Jampisawan), Ari Subekti menilai kebocoran pada bendung karet itu perlu dilakukan evaluasi. Terlebih, dia menyebut bendung karet telah mengalami kebocoran dua kali ini.

“Manajemen pengelolaan itu mungkin harus diperbaiki. Karena kami tahu sendiri beberapa Minggu sebelumnya ketika bendung itu ditutup, air sampai meluap cukup besar. Harusnya tekanan air dihitung dengan kapasitas kekuatan karet bendung itu,” jelas Ari. (*)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mitrapost.com  di Google News. silahkan Klik Tautan dan jangan lupa tekan tombol "Mengikuti"

Jangan lupa kunjungi media sosial kami

Video Viral

Kamarkos
Pojoke Pati