Mitrapost.com – Seorang siswa di SMPN 1 Blora menjadi korban pengeroyokan teman sekolahnya sendiri hingga mengalami luka di bibir yang harus dijahit.
Korban diketahui ditendang dan dipukuli hingga mengalami luka memar. Kepala SMPN 1 Blora, Ainur Rofiq mengatakan bahwa peristiwa itu terjadi pada Jumat (7/8/2026). Pihak sekolah pun telah melakukan penanganan pada Sabtunya.
“Awal kejadian itu kan hari Jumat (7/8). Ketika sudah ada penanganan di hari Sabtu, kita fokus anaknya dulu. Diperiksa dan diantar pulang,” ujarnya dilansir dari Detik.
Pihak sekolah juga disebut telah mengumpulkan siswa pada Senin (10/8/2026) untuk dimintai keterangan perihal kronologi kejadian.
“Korban minta dimediasi karena ada beberapa informasi yang harus dikroscek. Kan baru sepihak,” ujarnya.
Mediasi pun akhirnya digelar pada Selasa (11/8/2026) pukul 09.00 WIB dengan mendatangkan orang tua siswa dan orang tua korban. Namun pihak keluarga korban memilih tidak datang karena memilih melaporkan kasus ini ke polisi.
“Saya sampaikan kepada orang tua yang terlibat bahwa korban memilih lapor ke Polres,” paparnya.
Pihak sekolah juga sempat mendatangi rumah korban. Namun karena kasus sudah dilaporkan ke polisi, maka pihaknya pun mengikuti proses dari kepolisian.
Pihak yang dilaporkan dalam kasus ini ada empat siswa. Selain itu, ada sejumlah siswa lain yang disebut terlibat dalam kejadian, tetapi menurut sekolah mereka tidak dikategorikan sebagai pelaku.
“Yang dilaporkan terduga pelaku empat orang. Tapi ada juga anak-anak yang terlibat, bukan pelaku. Tapi terlibat begitu. Korbannya kelas 9,” ujarnya.
Berdasarkan kesaksian sejumlah siswa, korban sebelumnya kerap memasang jebakan berupa air di pintu kamar mandi sekolah. Sehingga saat pintu dibuka, air tumpah dan mengenai siswa yang masuk.
Siswa yang diduga terkena jebakan korban kemudian terlibat dalam pertengkaran dengan korban. Meski begitu, cerita ini masih dari satu pihak sehingga perlu dipastikan kebenarannya.
“Ini perlu dikroscek. Ada juga korban katanya pernah jadi korban itu, tapi yang memasang siapa kita juga belum tahu. Ada saksi yang mengetahui korban yang memasang itu,” ujarnya.
Para siswa yang terlibat disebut sudah saling meminta maaf dan diperbolehkan ikut kegiatan belajar di sekolah.
“Ya awalnya sudah ada maaf-maafan,” paparnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blora, Sunaryo meminta pihak sekolah untuk mengusut kasus ini dan berharap kasus bisa diselesaikan tanpa menempuh jalur hukum.
“Kemarin saya minta bapak ibu guru hadir ke rumah korban, bertemu orang tua untuk menyampaikan kronologi kasus yang sebenarnya agar informasinya seimbang,” ujarnya.
“Ini usia anak, jadi harus hati-hati agar tidak menimbulkan trauma. Kami berharap persoalan ini tidak berlanjut ke jalur hukum jika masih bisa diselesaikan secara kekeluargaan,” lanjutnya.
Kasat Reskrim Polres Blora, AKP Zaenul Arifin mengatakan bahwa pihaknya masih melakukan penyelidikan kasus ini.
“Ini baru giat penyelidikan (kasus dugaan perundungan siswa SMPN),” ujarnya.
“(Siapa saja yang dilaporkan?) Baru di SPKT, Reskrim baru penyelidikan. Laporan SPKT belum turun, Reskrim baru penyelidikan giat,” ujarnya saat ditanya perihal pihak yang dilaporkan. (*)

Redaksi Mitrapost.com






