Mitrapost.com – Badan intelijen Ukrania mengeluarkan dugaan terkait dengan adanya sebanyak delapan Warga Negara Indonesia (WNI) yang dilaporkan menjadi tentara bayaran Rusia.
Dalam hal ini, Juru Bicara (Jubir) Kementerian Luar Negeri Indonesia (Kemlu RI), Yvonne Mewengkang, mengatakan bahwa saat ini Pemerintah Pusat tengah melakukan pemantauan informasi dan berkoordinasi dengan perwakilan setempat.
“Pemerintah Indonesia tengah melakukan verifikasi atas informasi tersebut melalui Perwakilan RI serta berkoordinasi dengan Kementerian/Lembaga terkait,” ujar Yvonne dalam pernyataan resminya, dilansir dari CNN Indonesia.
“Informasi mengenai identitas, status kewarganegaraan, proses perekrutan, serta bentuk keterlibatan individu yang disebutkan masih perlu dipastikan lebih lanjut,” tambahnya, dikutip Selasa (01/09/2026).
Menurut penjelasannya, Yvonne menegaskan bahwa Pemerintah Pusat memiliki ketentuan hukum tersendiri yang secara jelas mengatur keterlibatan WNI dalam dinas militer di negara asing, termasuk juga dengan konsekuensinya terhadap status kewarganegaraan.
Namun, aturan tersebut baru dapat diterapkan dan dilaksanakan jika informasi dan data yang didapatkan sudah terverifikasi sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku.
“Apabila keterlibatan WNI dalam angkatan bersenjata negara asing dimaksud terverifikasi, hal tersebut merupakan tindakan individual dan tidak merepresentasikan kebijakan maupun posisi Pemerintah Indonesia,” jelasnya.
Meski demikian, Yvonne menegaskan bahwa Indonesia konsisten mendorong upaya penyelesaian damai atas konflik yang terjadi di antara Rusia dan Ukraina, sekaligus menekankan pentingnya penghormatan prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan hukum internasional.
Perlu diketahui, Badan intelijen Ukrania pada laporannya mengungkap bahwa Pemerintah Rusia di bawah Pemerintahan Vladimir Putin menjanjikan gaji tinggi, posisi non tempur, hingga kemudahan akses kewarganegaraan bagi warga asing yang mau menjadi tentara bayaran bagi mereka.
Laporan tersebut rilis pada 27 Agustus 2026, setelah jumlah raga Rusia yang bersedia menjadi sukarelawan militer tercatat menurun drastis. Ukraina juga menilai jika upaya Rusia merupakan bentuk propaganda yang mengartikan adanya dukungan global. (*)

Redaksi Mitrapost.com






