Mengenang Peristiwa G30S dan Para Pahlawan Revolusi

Mitrapost.com – Salah satu sejarah yang tidak boleh dilupakan masyarakat Indonesia adalah Gerakan 30 September (G30S) pada tahun 1965.

Gerakan tersebut merupakan peristiwa penculikan dan pembantaian sejumlah petinggi TNI dan seorang ajudan di Lubang Buaya, Jakarta, dan Yogyakarta. Atas peristiwa tersebut, muncul istilah Pahlawan Revolusi untuk menghormati mereka yang gugur.

Siapa itu Pahlawan Revolusi?

Pahlawan Revolusi merupakan gelar kehormatan bagi sejumlah perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang gugur dalam peristiwa G30S PKI pada tahun 1965. Gelar ini diberikan oleh Pemerintah Indonesia kepada 10 orang, terdiri dari petinggi TNI, polisi, serta ajudan.

Gelar penghormatan tersebut diberikan berdasarkan Keputusan Presiden pada tahun 1965. Kemudian, sejak ditetapkannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, Pahlawan Revolusi juga diakui sebagai Pahlawan Nasional.

Beberapa korban kini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan. Sedangkan, Pahlawan Revolusi diabadikan dalam Monumen Pancasila Sakti yang berlokasi di Jalan Raya Pondok Gede, Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Kota Jakarta Timur.

Menurut laman resmi Ensiklopedia Sejarah Indonesia, peristiwa tersebut dilakukan dalam upaya kudeta yang dipimpin oleh Letnal Kolonel Untung dan beberapa perwira, serta para anggota Partai Komunis Indonesia (PKI).

Ada 10 orang yang mendapat gelar Pahlawan Revolusi atas peristiwa G30S PKI. Kesepuluh orang tersebut terbunuh di Jakarta dan Yogyakarta. Diketahui, ada enam jenderal dan satu ajudan yang diculik dari rumah, kemudian dieksekusi di Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Adapun di antaranya Jenderal (Anumerta) Ahmad Yani, Letjen (Anumerta) Suprapto, Letjen (Anumerta) S. Parman, Letjen (Anumerta) M.T. Haryono (Mas Tirtodarmo Haryono), Mayjen (Anumerta) D. I. Panjaitan (Donald Ignatius Panjaitan), serta Mayjen (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo.

Kapten (Anumerta) Pierre Tendean turut dieksekusi di Lubang Buaya setelah mengaku sebagai Jenderal A.H Nasution. Sedangkan, A.I.P. II (Anumerta) K. S. Tubun (Karel Satsuit Tubun) tewas di kediaman dinas Wakil Perdana Menteri II Dr. J. Leimena, Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat.

Adapun pahlawan yang gugur dalam penyergapan di Yogyakarta, yakni Brigjen (Anumerta) Katamso. Nahas, jasadnya baru ditemukan pada tanggal 22 Oktober 1965. Selain itu, Kolonel (Anumerta) Sugiyono juga ditangkap di markas Korem 072 pada 1 Oktober 1965. Jasadnya juga ditemukan pada 22 Oktober 1965. (*)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mitrapost.com  di Google News. silahkan Klik Tautan dan jangan lupa tekan tombol "Mengikuti"

Jangan lupa kunjungi media sosial kami

Video Viral

Kamarkos
Pojoke Pati