Kasihan, Sampah Jadi Kambing Hitam

Catatan Direktur – Sampah sekarang menjadi bahan gunjingan disaat air mulai menggenangi pemukiman, jalan dan semua tempat yang tak terbendung oleh aliran air. Ada Kawasan pertanian yang beberapa kali harus runtuh tanggulnya karena meluapnya air hujan, yang datangnya cukup melimpah.

Pemilik kewenangan meskipun sudah memberikan waktu dan peralatan melebihi waktu yang ada, tentu sangat sibuk memberikan pengawasan. Seolah berharap!, jangan sampai ada air yang menggenangi dan mengganggu warganya. Namun yang jadi pertanyaan? apakah sudah disiapkan segala sesuatunya untuk membendung segala kemungkinan!.

Seharusnya, pada musim kemarau, menjadi waktu prioritas utama dalam menyiapkan penanggulangan bencana yang akan datang, disaat curah hujan mulai bertambah. Tentunya kita sebagai manusia tidak harus menantang takdir Tuhan. Hanya berusaha sebaik mungkin dalam merencanakan untuk menghadapi datangnya bencana alam.

Ini bukan sekedar masalah menghadapi!, namun perlu ada solusi. Kita butuh mekanisme teknis untuk mengalirkan air banjir secepat mungkin atau menumbuhkan kawasan zona penyerapan air, agar air tidak meluap. Resapan dikawasan pegunungan di Pati harus didorong dan diupayakan dengan diimbangi sistem pengairan yang mumpuni.

Selain itu, normalisasi sungai wajib dilakukan, banyak alur sungai yang sekarang ini semakin ke muara semakin menyempit. Banyak sampah eceng gondok yang menyumbat aliran sungai, seharusnya menjadi fokus semua pihak.

Beberapa bulan lalu, Pati disibukan dengan mempersolek diri, meski sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Pati Nomor 13 Tahun 2014 Tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima. Para pencari nafkah di alun-alun harus direlokasi karena melanggar pasal 9 pada Perda tersebut, karena Alun-alun termasuk Zona Merah. Relokasi PKL ditempatkan di Tempat Pelelangan Kayu (TPK) milik Perhutani Pati.

Prosesnya cukup Panjang dengan menguras energi kedua belah pihak, bahkan sejumlah langkah Pemkab Pati untuk meramaikan lokasi TPK pun dilakukan dengan banyak cara. Kegiatan-kegiatan rutin turut dilakukan dari buka puasa hingga menjadwalkan OPD untuk melakukan kegiatan dilokasi. Bahkan tercatat dalam pantauan redaksi mitrapost.com bahwa malam pergantian tahun baru kemarin pun digelar di perempatan Puri berdekatan dengan lokasi TPK.

Sementara itu, saat ramai-ramainya relokasi PKL, masih teringat sejumlah wakil rakyat Pati turut melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke lokasi, bahkan ada yang mengatakan memang tidak layak karena lokasi yang ditempati kurang strategis dan berbagai macam alasan lainnya.

Tahun 2019 sudah berlalu dan tahun 2020 sudah datang, bahkan bulan Januari sudah terlewatkan. Bahkan menurut informasi dari sejumlah pihak, salah satunya dari Kepala DPUPR Pati di tahun 2020 ini akan ada proyek besar di Pati, diantaranya Stadion 20 Miliar, Dermaga 19 Miliar dan Rumah Sakit Juwana 20 Miliar.

“Stadion 20 M, Dermaga 19 , RS Juana sekitar 20,” Pesan Kepala DPUPR Pati, Ahmad Faisal (Sabtu, 1/2/2020) kemarin.

Semoga Pati semakin baik dan bermartabat, bukan sekedar membangun fisiknya, namun bisa melakukan program berdaya saing untuk masyarakat. (*)

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Login untuk masuk,