Harga Kedelai Masih Tinggi, Dewan Pati: Petani Perlu Dibina  

Pati, Mitrapost.com – Harga komoditas kedelai tergolong masih tinggi di bulan ini dibandingkan bulan-bulan lalu. Maka dari itu, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati meminta pemerintah untuk membina petani hasil panennya lebih banyak daripada saat ini.

Anggota DPRD Kabupaten Pati Narso menilai naiknya harga kedelai lantaran kedelai di Indonesia lebih banyak dipasok oleh luar negeri atau impor dari pada dari dalam negeri sendiri.

Baca juga: PPKM Bakal Diperpanjang, Dewan Pati Imbau Masyarakat Dukung Kebijakan

“Kalau kedelai kebanyakan kita impor,” ujar Narso yang juga menjabat sebagai Ketua Fraksi Nurani Keadilan Rakyat Indonesia (NKRI) di DPRD Kabupaten Pati, belum lama ini.

“Kalau bicara skala nasional bagaimana para petani lokal ini untuk bisa menghasilkan kedelai-kedelai yang bisa kita gunakan untuk pembuatan tempe tahu dan lainnya. Tentu perlu adanya pembinaan untuk mereka,” jelas Narso.

Baca juga: PTSL 2021 Targetkan 73 Ribu Bidang Tanah Tersertifikat, Dewan Pati: Prioritas Desa

Saat ini harga kedelai sekitar Rp9 ribu per kilogram. Padahal harga kedelai sebelumnya Rp7 ribu per kilogramnya. Hal ini membuat beberapa produsen tahu dan tempe merasa keberatan. Bahkan di antaranya mengurangi produksi.

Para pedagang tempe dan tahu pun berharap agar Perusahaan Umum (Perum) Bulog untuk mengendalikan impor kedelai. Saat impor kedelai masih dikendalikan pihak swasta.

Baca juga: Populerkan Aplikasi Pasar Online, Dewan Pati: Gaet Influencer Lokal

Apabila, Bulog memiliki andil lebih, maka harga kedelai dapat lebih stabil serta kualitas kedelai bisa dikendalikan lebih baik.

Bulog sendiri sudah mencoba menarik harga kedelai sebesar Rp8.500. Namun, patokan harga ini dinilai para importir masih terlalu rendah dan tidak bisa menguntungkan. (Adv/UH/AZ/SHT)

Baca juga: 

Jangan lupa kunjungi media sosial kami, di facebook, twitter dan instagram

Redaktur: Atik Zuliati