Mitrapost.com – Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam. Haji merupakan panggilan bagi umat muslim yang sudah mampu, baik secara fisik, mental, maupun finansial untuk menyempurnakan ibadah kepada Allah SWT dengan bertandang langsung ke Tanah Suci.
Ada banyak yang perlu dipersiapkan sebelum melaksanakan haji. Namun, umat muslim dianjurkan untuk menunaikan ibadah salat sunah sebelum berangkat ke Tanah Suci. Ibadah sunah tersebut adalah salat sunah safar (berpergian). Sunah ini bisa dilakukan saat akan berpergian dengan tujuan yang baik, termasuk ibadah haji.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila engkau akan keluar dari rumahmu, bersholatlah dua rakaat, insyaallah dua rakaat itu akan memelihara dirimu dari tempat keluarnya keburukan. Dan apabila engkau masuk ke dalam rumahmu, maka bersholatlah dua rakaat, insyaallah dengan dua rakaat itu memeliharamu dari masuknya keburukan,” (HR Baihaqi).
Diriwayatkan dari Muth’am bin Miqdam RA, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih utama yang ditinggalkan seseorang kepada keluarganya daripada sholat dua rakaat di sisi mereka (di rumah) sebelum melakukan perjalanan,” (Riwayat ini terdapat dalam Faidhul-Qadir karya Munawi).
Salat safar sendiri merupakan salat sunah yang dikerjakan sebanyak 2 rakaat seperti salat sunah pada umumnya. Pada rakaat pertama, dianjurkan membaca Al-Fatihah dan Al-Kafirun atau Al-Falaq. Sedangkan pada rakaat kedua, dianjurkan membaca surat Al-Ikhlas atau An-Nas. Setelahnya, dianjurkan pula membaca ayat kursi dan surat Quraisy.
Berikut adalah niat salat safar dan doa sebelum berpergian.
Niat salat safar
أُصَلِّي سُنَّةَ لِإِرَادَةِ السَّفَرِ رَكْعَتَيْنِ اللَّهِ تَعَالَى اللَّهُ أَكْبَرُ
Ushalli sunnata li iradatis-safari rakataini lillahi ta’ala. Allahu akbar.
Artinya: “Aku berniat sholat hendak bepergian dua rakaat karena Allah ta’ala. Allahu akbar.”
Doa saat naik kendaraan
Sebelum Rasulullah SAW pergi untuk melakukan perjalanan, dibacakan doa berikut setelah melakukan takbir sebanyak 3 kali.
سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبَّنَا لَمُنْقَلِبُونَ
Subhaanal ladzii sakhkhara lanaa hadzaa wamaa kunnaa lahuu muqriniin, wa innaa ilaa rabbinaa lamunqalibuun.
Artinya: “Mahasuci Engkau, sungguh aku benar-benar telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang dapat memberikan mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.”
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى. اللَّهُمَّ هَوَ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَأَطْوِ عَنَا بُعْدَهُ
Allaahumma innaa nas-aluka fii safarinaa haadzal birra wattak- waa, wa minal amali maa tardlaa, allaahuma hawwin ‘alainaa safaranaa haadzaa wa athwi ‘annaa bu’dahu.
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan kami, perjalanan yang dalam kebaikan dan ketakwaan, dan termasuk amal yang Engkau ridai, ya Allah permudahlah perjalanan kami ini dan dekatkanlah atas kami yang jauh,” (HR Muslim). (*)
Redaksi Mitrapost.com