Mitrapost.com– Selebgram Rachel Vennya jadi kecaman warga maya usai dituding ‘kabur‘ dari karantina Wisma Atlet Pademangan sepulang dari acara di Amerika Serikat. Berdasarkan kabar yang ramai dibicarakan di media sosial, Rachel Vennya hanya menjalani isolasi selama tiga hari, kemudian setelah itu berlibur dan melakukan perjalanan ke Bali bersama teman-temannya.
Terlepas dari berita yang menuding Rachel Vennya yang tidak menaati peraturan, Dr Masdalina Pane selaku ahli epidemiologi dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI), mengungkapkan karantina bagi orang-orang yang baru melakukan perjalanan luar negeri adalah hal paling penting dalam penanganan pandemi.
Sebab meski pelaku perjalanan sempat melakukan tes dengan hasil negatif sebelum melakukan perjalanan kembali ke RI, risiko penularan dan masuknya varian Corona baru tetap ada.
“Karantina pelaku perjalanan luar negeri adalah hal yang paling krusial dalam pengendalian wabah, untuk mencegah penyakit berpotensi wabah yang mulai terjadi di negara lain juga untuk mencegah varian baru masuk ke dalam negeri,” jelas Masdalina, pada Selasa (12/10/2021).
Banyak masyarakat yang belum mengetahui tata cara melakukan karantina, seharusnya bagaimana karantina dilakukan?
Pane menjelaskan, pada teorinya, , karantina boleh dikurangi separuhnya dengan syarat tes dilakukan pada masa inkubasi rata-rata, karantina dilakukan satu kali masa inkubasi terpanjang. Apa pun jenis wabahnya, jenis karantina bertingkat. Namun jika sudah memiliki kemampuan digital tracking.
“Untuk COVID-19, masa inkubasi rata-rata adalah 5 sampai 6 hari. Jadi 2 kali negatif itu hari ke-5 atau ke-6 dan dites kembali 24 jam setelahnya. Hari ke-7 atau ke-8,” jelas Pane.
“Jika 2 kali negatif maka discarded (keluar dari karantina),” pungkas Pane. (*)
Artikel ini telah tayang di DetikHealth.com dengan judul “Masih Soal Heboh Rachel Vennya, Bagaimana Karantina Bisa Tangkal Varian Baru?”
Redaksi Mitrapost.com