Rembang, Mitrapost.com – Para petani di Desa Jatisari, Kecamatan Sluke, Kabupaten Rembang mampu panen padi sebanyak 3 kali dalam setahun. Badan Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Sluke mengungkapkan, hasil ini berkat adanya sumur bor.
Koordinator Badan penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Sluke, Marsam mengungkapkan bahwa rata-rata desa di pinggir pantai kecamatan Sluke tersebut memang mempunyai kekayaan air bawah tanah yang melimpah.
Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh petani untuk membangun sumur bor sebagai sarana pengairan sawah mereka. Bahkan dengan adanya sumur bor, Desa Jatisari mampu melakukan panen padi sebanyak 3 kali dalam setahun. Serta bisa menyuplai stok padi untuk Kecamatan lain.
“Untuk desa Jatisari memang lebih cocok ditanami padi. Di Sluke sampai saat ini sudah dibangun 400 sumur bor, Jadi bukan dari saluran irigasi. Padi di sini bisa panen 3 kali dalam setahun berkat adanya sumur bor ini,”ungkap Marsam saat ditemui Kamis (09/12/2021).
Sumarsono, seorang petani berusia 72 tahun dari Desa Jatisari, Kecamatan Sluke, Kabupaten Rembang mengatakan, dirinya sangat bersyukur dengan adanya sumur bor yang ia buat. Pasalnya, meskipun letaknya di dekat Pantai Utara Jawa, rasa air di sumur bor miliknya cenderung tawar.
“Ya saya nggak tahu kenapa bisa sebagus itu airnya. Padahal di pinggir laut. Semua Tuhan yang mengatur,”ungkap Sumarsono.
Dengan adanya sumur bor tersebut, dirinya bisa mengalirkan air untuk 2 petak sawahnya. Selain itu, adanya sumur bor ini, dirinya tidak pernah kekurangan air dalam mengolah sawahnya. Setiap selesai panen, tanah langsung diolah dan ditanami padi kembali.
Dirinya mengungkapkan, berkat adanya sumur bor, keluarganya tidak pernah merasa kekurangan beras. Karena sekali panen, Sumarsono bisa menghasilkan 40 sak gabah (biji beras).
Dirinya juga mengatakan, dalam proses tanam selalu melibatkan para petani lain untuk menggarap sawahnya. Meskipun terkadang selisih antara pemasukan dan pengeluaran tidak sama atau cenderung rugi, akan tetapi dirinya merasa lega.
“Kalau ditanya antara pemasukan dan pengeluaran mungkin impas atau bahkan rugi. Tapi dibalik itu semua, hati saya merasa ayem (tenang),”pungkas Sumarsono. (*)