Pati, Mitrapost.com – Anggota Komisi E Dewan Perwakilam Rakyat (DPRD) Provinsi Jawa Tengah, Tazkiyatul Muthmainnah sangat prihatin pada generasi muda zaman sekarang yang sudah pintar teknologi akan tetapi masih lemah memahami nilai-nilai Pancasila.
Pasalnya, di era teknologi digital ini sungguh luar biasa, dimana semua masyarakat khususnya generasi muda bisa mengakses apa saja di lingkungan sekitar hanya dengan menggunakan teknologi.
Terlebih dari sisi budaya-budaya, baik alat musik, seni tari, adat berpakaian, makanan maupun gaya hidup di lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
“Generasi muda semua itu sekarang sudah cerdas, sudah canggih, bisa mengakses apa saja, sayangnya masih dianggap lemah dalam memahami nilai-nilai Pancasila di kehidupan sehari-hari. Ini menjadi keprihatinan kita,” sebut Muthmainnah.
“Ini akibatnya apa, ketika kita bisa mengakses teknologi, ketika anak-anak muda mulai canggih tapi nilai Pancasilanya lemah ini sangat bahaya,” tambahnya.
Sementara itu, pihaknya memberikan contoh pada generasi muda yang memanfaatkan teknologi digital akan tetapi sangat merugikan masyarakat. Hal itu terjadi lantaran kurangnya nilai-nilai Pancasila pada generasi muda saat ini.
“Salah satu contoh, anak seorang pemuda yang masih SMA yang dimana dia bisa merakit bom. Hanya dengan belajar dari internet dalam kurun waktu beberapa jam tidak sampai harian atau bulanan. Jadi ia praktikkan ia belajar kemudian belanja bahan pada keterangan di situ dan delalah kok jadi,” sebutnya.
“Ini insyaallah tidak dilakukan, jika dia memiliki nilai-nilai Pancasila pada nasionalisme yang tinggi. Apalagi pelaku para teroris ini ya ketika mereka terhasut dengan terorisme berbasis agama. Jadi agama dijadikan sebagai melakukan hal-hal yang tidak baik, dan ini pun termasuk pada ideologi rasnasional yang di luar ideologi Pancasila,” lanjutnya.
Dituturkan Muthmainnah, pengaruh globalisasi menjadi pemicu pertama dalam melemahnya semangat nasionalisme pada generasi muda. Dengan demikian, jika generasi muda mudah terhasut hal yang merugikan maka ke depannya akan rusak. (*)






