Pati, Mitrapost.com – Nevy Nandika Ibram merupakan salah satu seniman muda dari komunitas Cah Juwana Pluralitas (CJP) yang berhasil menekuni seni alat musik tradisional sape dengan mengkolaborasikan budaya Jawa dengan budaya Kalimantan.
Pasalnya, dalam menekuni sape itu, ada beberapa instrumen yang ia buat dengan teman-temannya. Yang hanya sebatas instrumen musik dan oriental vokal tanpa lirik.
“Itupun aku masih belajar buat komposisi dan nyoba mengawinkan budaya Kalimantan dan Jawa lewat alat musik tradisional. Ada beberapa instrumen yang saya dan temen-teman saya ciptakan mba,” jelas Nevy kepada media Mitrapost.com usai menampilkan lapak seni suronan.
“Tapi karena untuk saat ini masih di fase ngulik atau belajar, jadi ya saya anggapnya itu sebuah sample karya lah ya. Dan saya buatnya itu hanya instrumental musik dan oriental vokal saja ga ada liriknya,” tambahnya.
Sebagai informasi, karya yang ia buat yakni berupa unmastered atau belum melewati proses mastering. Yang dimana Agus Purnomo sebagai pengisi harmonika, Rosi sebagai oriental vokal, sedangkan Pambudi mengisi gitar dan untuk sape yakni Nevy Nandika Ibram.
Diungkapkan Nevy, alat musik tradisional sape mirip dengan gitar dan kecapi, terlebih dari segi tangga nada. Akan tetapi, yang membedakan yakni sape menggunakan 3 sampai 4 senar dan setingan nada senarnya pun berbeda.
“Betul, mirip gitar dan kecapi, tangga nadanya pun hampir sama seperti gitar dan alat musik sejenisnya. Cuman bedanya kalau sape tradisional itu biasanya menggunakan 3-4 senar dan setingan nada pada senarnya berbeda,” ungkap Nevy.
“Cara memainkannya hampir sama seperti kecapi, memetik senar atau dawai untuk menghasilkan nada yang diinginkan, dan bunyi senarnya itu nada dasar (Do re mi fa sol la si do),” lanjutnya.
Sementara itu, Nevy juga menyinggung terkait peforma yang ia tampilkan selama menekuni sape. Dimana ia telah tampil di lapak seni dan acara distrik tanduk di Jakenan.
Selain itu, ia juga terkadang menampilkan sape di acara-acara kecil atau bawah tanah yang bersifat kolektif atau sambatan. (*)






