Mitrapost.com – Seorang muslim perlu mengembangkan sikap Tawadhu, yakni merendahkan diri. Merendahkan diri disini berbeda dengan merasa rendah diri atau tidak percaya diri. Melainkan, senantiasa merunduk dan tidak menyombongkan diri atas apa yang telah dimiliki dan diperoleh.
Menurut Imam Ghozali dalam Ihya Ulumudin menjelaskan tawadhu sebagai mengeluarkan kedudukan kita dan menganggap orang lain lebih utama dari kita. Tawadhu juga lawan dari sombong atau takabur. Mereka yang memiliki sikap ini tidak akan memandang dirinya lebih unggul dari orang lain.
Menurut Al-Quran dan hadits, tawadhu memberikan keutamaan sebagai berikut.
Diangkat derajatnya
Dalam hadits Dailami, Rasulullah SAW bersabda, “Tawadhu, tidak ada yang bertambah bagi seorang hamba kecuali ketinggian derajatnya. Oleh karena itu tawadhulah kamu, niscaya Allah akan meninggikan derajatmu.”
Menjadi hamba yang dibanggakan
Dalam surat Al-Furqan ayat 63, Allah SWT berfirman sebagai berikut.
وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًا
Wa ‘ibādur-raḥmānillażīna yamsyụna ‘alal-arḍi haunaw wa iżā khāṭabahumul-jāhilụna qālụ salāmā
Artinya: “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan kerendahan hati dan jika orang-orang jahil menyapa, mereka akan mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.”
Dijanjikan surga
Dalam surat Al-Qasas ayat 83, Allah berfirman,
تِلْكَ الدَّارُ الْاٰخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِيْنَ لَا يُرِيْدُوْنَ عُلُوًّا فِى الْاَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۗوَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ
Tilkad-dārul-ākhiratu naj’aluhā lillażīna lā yurīdụna ‘uluwwan fil-arḍi wa lā fasādā, wal-‘āqibatu lil-muttaqīn
Artinya: “Negeri akhirat telah Kami sediakan bagi mereka yang tidak sombong dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik) adalah hak bagi orang-orang yang bertakwa.” (*)
Redaksi Mitrapost.com






