Mitrapost.com – Dalam Islam, kita mengimani adanya makhluk ciptaan Allah SWT baik yang kasat mata, maupun tak kasat mata. Salah satu makhluk tak kasat mata adalah setan yang selalu mendampingi dan menggoda manusia.
Setan itu disebut dengan qarin. Penamaan qarin yang artinya pendamping tersebut juga dijelaskan dalam Al-Quran, yakni melalui surat Fushilat ayat 25 yang berbunyi;
۞ وَقَيَّضْنَا لَهُمْ قُرَنَاۤءَ فَزَيَّنُوْا لَهُمْ مَّا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَحَقَّ عَلَيْهِمُ الْقَوْلُ فِيْٓ اُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِمْ مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۚ اِنَّهُمْ كَانُوْا خٰسِرِيْنَ ࣖ
Artinya: Kami menetapkan bagi mereka teman-teman (dari setan) yang memuji-muji apa saja yang ada di hadapan (nafsu dan kelezatan dunia) dan di belakang (angan-angan) mereka. Tetaplah atas mereka putusan (azab) bersama umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari (golongan) jin dan manusia. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang rugi.
Lantas, benarkan setiap manusia diikuti setan pendamping atau qarin? Simak hadits berikut ini!
Benarkah setiap manusia diikuti setan qarin?
Urwah bin Az Zubair ra pernah mendapat cerita dari istri Rasulullah SAW, Aisyah RA. Saat itu Aisyah RA mengungkapkan kecemburuannya pada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW pergi keluar dari rumahnya pada suatu malam.
Sekembalinya di rumah, Rasulullah SAW pun menyadari hal itu dan bertanya, “‘Apa yang terjadi denganmu hai Aisyah? Apakah engkau cemburu?’ Aisyah menjawab, ‘Bagaimana aku tidak cemburu jika cemburu jika melihat engkau seperti itu’, Rasulullah SAW bersabda ‘Rupanya engkau telah didatangi setan’.”
Mendengar hal itu, Aisyah kembali memastikan pada Rasulullah SAW tentang keberadaan setan di sekitarnya. Ia berkata, “‘Wahai Rasulullah, apakah ada setan yang besertaku?’, ‘Benar,’ jawab Rasulullah SAW. Ditanya lagi oleh Aisyah, ‘Apakah setan juga menyertai setiap orang?’ Kemudian, pertanyaan tersebut lagi-lagi dibenarkan oleh Rasulullah SAW.
“‘Apakah ia besertamu pula?’ tanya Aisyah kembali. ‘Benar,’ Lalu, Rasulullah SAW melanjutkan, ‘Tetapi Rabbku menolongku dalam menghadapinya, sehingga aku bisa selamat’,” (HR Muslim).
Menurut Al Khathabi, kalimat terakhir Rasulullah SAW ditafsirkan oleh mayoritas perawi sebagai ungkapan selamat dari kejahatan dan keburukan setan. (*)
Redaksi Mitrapost.com






