Mitrapost.com – Dua pendaki puncak Jaya atau Carstensz di Kabupaten Mimika, Papua Tengah meninggal dunia. Para pendaki, Lilie Wijayanti dan rekannya, Elsa Laksono diduga mengalami hipotermia, sebelum akhirnya dikabarkan meninggal dunia.
PT Tropic Cartenz Jaya selaku operator pendakian telah berkoordinasi dengan kepolisian dan Basarnas untuk proses evakuasi. Kedua korban rencananya dievakuasi menggunakan helikopter.
“Dua pendaki lokal yang meninggal dunia dikarenakan hipotermia di Taman Nasional Cartenz,” tutur Kabid Humas Polda Papua, Kombes Ignatius Benny Ady Prabowo, Minggu (2/3/2025), dikutip Detik.
Hipotermia merupakan salah satu risiko yang bisa dialami dalam pendakian di gunung, khususnya di wilayah yang sangat dingin hingga memicu penurunan suhu badan drastis. Hipotermia sendiri merupakan ondisi ketika suhu tubuh turun di bawah normal.
Hipotermia dapat disembuhkan jika ditangani segera, namun bisa berakibat fatal jika tidak dilakukan penanganan dengan cepat dan tepat. Untuk selengkapnya, berikut kami rangkum tentang hipotermia dan gejala-gejalanya, dilansir dari Halodoc!
Apa Itu Hipotermia?
Hipotermia merupakan kondisi darurat medis saat tubuh lebih cepat kehilangan panas dibandingkan panas yang dihasilkan. Kondisi ini menyebabkan suhu tubuh menjadi sangat rendah, yakni di bawah 35 derajat celcius dari suhu normal 37 derajat celcius.
Kondisi hipotermia bisa memengaruhi fungsi dari jantung, sistem saraf, dan organ lainnya sehingga tidak berfungsi dengan baik. Jika tidak segera diatasi, hipotermia dapat menyebabkan kegagalan fungsi jantung total dan sistem pernapasan, bahkan kematian.
Hipotermia terjadi akibat tubuh kehilangan panas lebih cepat dibandingkan tubuh memproduksi panas. Kondisi ini biasanya disebabkan akibat paparan cuaca atau air dingin yang terlalu lama tanpa menggunakan pakaian yang lengkap atau yang bisa memberikan kehangatan.
Mendaki gunung dan berenang merupakan salah satu faktor risiko mengalami hipotermia.
Apa saja gejalanya?
Ada beberapa gejala hipotermia yang diklasifikasikan sesuai tingkatnya, yakni ringan, sedang, hingga berat. Hipotermia ringan saat suhu tubuh mencapai 32–35°C, hipotermia sedang saat suhu tubuh mencapai 28–32°C, serta hipotermia berat saat suhu tubuh mencapai 28°C atau lebih rendah.
Hipotermia ringan gejalanya meliputi badan menggigil, kulit terasa dingin saat disentuh, kulit pucat, mati rasa, pernapasan cepat, mengantuk, takikardia (detak jantung cepat), serta mengalami respon menurun.
Hipotermia sedang gejalanya meliputi inkontinensia urine atau ketidakmampuan menahan kencing, menggigil berhenti, pernapasan melambat, bradikardia atau detak jantung melambat, penurunan tekanan darah, hingga penurunan kesadaran.
Hipotermia berat memiliki gejala kekakuan otot, tidak ada respon sama sekali, bradikardia yang semakin parah, pernapasan dan nadi sangat lemah, pingsan, bahkan henti jantung.
Bagaimanan pertolongan pertamanya?
Ketika berhadapan dengan seseorang yang mengalami hipotermia, segeralah hubungi petugas untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Selain itu, Anda juga bisa melakukan pertolongan pertama dengan memindahkan korban ke lingkungan yang lebih hangat, kemudian lindungi korban dari angin, terutama di sekitar leher dan kepala.
Lepaskan pakaian basah, kemudian kenakan pakaian berupa mantel atau selimut hangat dan kering. Kompres tubuh korban dengan air hangat dengan kain kering, terutama pada bagian dada, leher, dan pangkal paha. Mulailah CPR jika korban tidak menunjukkan respon, seperti tidak bernapas, batuk, ataupun bergerak. (*)

Redaksi Mitrapost.com






