Mitrapost.com – Bagi sebagian orang, rumah bukan hanya sekadar tempat tinggal, tetapi juga ruang yang menyimpan energi yang dapat memengaruhi kehidupan penghuninya.
Salah satu konsep yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu adalah feng shui, ilmu tradisional Tiongkok yang mengatur tata letak dan energi dalam sebuah ruangan. Feng shui dipercaya dapat membawa keseimbangan, keberuntungan, serta suasana harmonis dalam rumah.
Di era modern, feng shui masih banyak diterapkan, tidak hanya di Tiongkok tetapi juga di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Menurut laporan South China Morning Post (2024), tren desain interior yang mengadopsi prinsip feng shui meningkat hingga 18% di kawasan Asia Tenggara, terutama pada kalangan generasi muda yang ingin menghadirkan suasana nyaman sekaligus estetis di rumah.
Salah satu prinsip utama dalam feng shui adalah penempatan pintu utama. Pintu dianggap sebagai mulut energi atau tempat masuknya chi (energi kehidupan). Karena itu, pintu sebaiknya tidak langsung sejajar dengan jendela besar di belakang rumah.
Hal ini dipercaya membuat energi baik cepat keluar. Sebagai solusinya, penggunaan sekat atau tanaman hias bisa membantu menjaga keseimbangan.
Selain pintu, pencahayaan alami juga memegang peranan penting. Rumah yang mendapat cukup cahaya matahari dipercaya lebih sehat dan penuh energi positif. Tak heran, banyak rumah modern mengutamakan jendela besar, skylight, atau bukaan lebar untuk memaksimalkan aliran cahaya alami.
Penataan ruang keluarga pun tidak boleh sembarangan. Dalam feng shui, ruang keluarga sebaiknya berada di bagian tengah rumah agar menjadi pusat kebersamaan.
Meja dan kursi disarankan memiliki posisi yang memungkinkan semua penghuni bisa melihat pintu masuk, sehingga tercipta rasa aman dan nyaman.
Tak kalah penting, kehadiran tanaman hidup juga menjadi elemen yang disukai dalam feng shui. Tanaman hijau bukan hanya memperindah ruangan, tetapi juga dipercaya mendatangkan keberuntungan dan membersihkan energi negatif.
Tanaman populer seperti bambu keberuntungan, monstera, atau peace lily sering menjadi pilihan. Data dari Global Houseplant Report (2025) bahkan mencatat peningkatan penjualan tanaman indoor sebesar 22% di Asia, salah satunya karena alasan feng shui.
Sementara itu, kamar tidur dianggap sebagai ruang paling pribadi yang harus ditata dengan penuh perhatian. Ranjang tidak boleh langsung sejajar dengan pintu, karena dipercaya mengganggu kualitas istirahat.
Posisi ideal adalah ranjang yang bersandar pada dinding kokoh dengan akses mudah ke kedua sisi. Hal ini memberikan rasa stabil dan seimbang bagi pasangan maupun individu.
Feng shui juga menekankan pentingnya menjaga rumah tidak berantakan. Menurut filosofi ini, barang-barang yang menumpuk bisa menghambat aliran energi positif. Tidak heran jika tren decluttering atau beres-beres rumah yang dipopulerkan Marie Kondo juga selaras dengan prinsip ini.
Meskipun ada yang melihat feng shui sebagai mitos atau tradisi kuno, banyak orang merasakan efek positif setelah menerapkannya. Entah dari sisi psikologis, estetika, atau sekadar sugesti, menata rumah dengan baik tentu berdampak pada kenyamanan dan kebahagiaan penghuninya. (*)

Redaksi Mitrapost.com






