Mitrapost.com – Wayang adalah salah satu kesenian tradisional Indonesia yang sudah dikenal luas, bahkan diakui United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity sejak tahun 2003.
Data dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (2024) menunjukkan adanya peningkatan minat generasi muda terhadap kesenian tradisional, termasuk wayang.
Kesenian ini bukan sekadar hiburan, melainkan juga sarana pendidikan, penyampai nilai moral, hingga media spiritual yang berkembang selama berabad-abad. Sejarah wayang diyakini sudah ada sejak lebih dari 1.000 tahun lalu.
Menurut catatan sejarah, istilah wayang berasal dari kata bayang atau bayangan, karena pertunjukan awalnya menggunakan boneka kulit yang diproyeksikan melalui cahaya lampu blencong ke layar kelir, sebelum akhirnya disebut dengan wayang kulit.
Wayang sendiri berkembang pesat pada masa kerajaan Hindu-Buddha di Jawa. Relief di Candi Panataran (Blitar) dan Candi Prambanan (Yogyakarta) menunjukkan adanya bentuk seni pertunjukan yang mirip wayang pada abad ke-9.
Saat itu, kisah yang dibawakan masih banyak mengadaptasi epos India, seperti Ramayana dan Mahabharata.
Namun seiring perjalanan waktu, cerita-cerita tersebut mengalami akulturasi dengan budaya lokal sehingga melahirkan tokoh-tokoh khas Jawa, misalnya Punakawan (Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong) yang tidak ditemukan dalam versi India.
Pada masa penyebaran Islam di Jawa, wayang justru menjadi salah satu media dakwah. Wali Songo khususnya Sunan Kalijaga menggunakan pertunjukan wayang untuk menyampaikan ajaran Islam dengan cara yang mudah diterima masyarakat.
Beliau menggubah lakon, simbol, dan filosofi dalam wayang agar sejalan dengan nilai-nilai Islam tanpa menghilangkan akar budayanya. Dari sinilah wayang semakin mengakar dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Seiring perkembangan zaman, bentuk wayang pun semakin beragam. Selain wayang kulit, ada wayang golek yang populer di Jawa Barat, wayang orang yang dimainkan oleh manusia dengan balutan kostum khas, serta wayang beber yang berupa gambar pada gulungan kain atau kertas.
Hingga kini, wayang masih dipentaskan dalam berbagai acara, baik hajatan masyarakat, pertunjukan seni, maupun festival budaya. (*)

Redaksi Mitrapost.com






