Antara Dakwah dan Digitalisasi dalam Dunia Santri Menurut Guru Besar UIN Jakarta

Mitrapost.com – Menjadi santri di era digital saat ini tidak lagi identik dengan kehidupan yang sepenuhnya jauh dari dunia teknologi. Justru, banyak santri yang kini mulai memanfaatkan media sosial untuk berdakwah dan menyebarkan kebaikan melalui konten digital.

Belum lama ini dunia kepesantrenan memperingati Hari Santri yang terlaksana setiap 22 Oktober. Tahun 2025 membawa santri pada refleksi wajah baru di tengah derasnya arus digitalisasi, setelah sebelumnya jauh dari hiruk-pikuk modernitas.

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Ahmad Tholabi Kharlie menganggap pesantren yang dulunya dikenal sebagai dunia sunyi, kini berubah menjadi ruang terbuka yang rentan sebagai objek sorotan publik.

Fenomena ini menunjukkan bahwa dunia pesantren mulai beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai moral dan spiritual yang menjadi pondasinya.

Melalui media seperti YouTube, TikTok dan Instagram, para santri kini bisa menyampaikan pesan dakwah dengan cara yang lebih kreatif dan relevan. Misalnya, membuat video nasihat islami, sejarah ulama, atau membagikan keseharian di pesantren yang dikemas dengan gaya ringan dan menghibur.

Namun, menjadi santri yang mulai melebur pada keterbukaan sosial bukan berarti tidak membawa konsekuensi. Ahmad menyinggung beberapa kasus pelanggaran moral, kekerasan, hingga pelecehan yang melibatkan oknum pengasuh atau ustaz pesantren yang menjadi perbincangan nasional.

Dalam laporan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) pada 2024 sebelumnya bahkan mencatat terdapat 573 kasus kekerasan di lembaga pendidikan, dan sekitar 20 persen di antaranya terjadi di pesantren atau lembaga keagamaan.

Laporan ini menjadi bentuk tantangan bahwa santri dan dunia kepesantrenan harus pula membentuk sistem tata kelola secara terbuka, transparan, dan akuntabel, bukan hanya mengandalkan penanganan internal.

Ahmad bahkan mengibaratkan santri sebagai “teks terbuka” yang tidak lagi beridentitas tunggal, misal sebagai pengkaji kitab-kitab turats, tetapi juga penggiat teknologi. Maka ketika identitas tersebut dibaca oleh siapa saja, para santri harus berani melakukan autokritik.

Tiga poin utama yang bisa dilakukan oleh santri untuk menghadapi arus fenomena ini, slah satu di antaranya ialah membangun tata kelola dan sistem perlindungan santri yang lebih profesional utamanya ketika mengalami suatu kasus, bukan hanya dengan diam.

Kedua, perluasan kurikulum pesantren seperti mencakup literasi digital, komunikasi publik hingga etika bermedia patut diterapkan untuk menyiapkan santri sebagai ahli agama sekaligus warga digital yang cerdas dan beretika.

Ketiga, mengubah paradigma komunikasi pesantren bersama publik, dengan cara selalu aktif hadir dalam ruang digital. Hal ini penting bagi santri untuk menjadi pelaku utama dalam narasi kebaikan, bukan sekadar bertahan dari tuduhan.

Dalam penutupan ucapannya di Hari Santri, Ahmad mengingat sebuah perkataan dari Rumi (XIII), bahwa janganlah engkau menjadi musuh zamanmu, agar zamanmu tidak menjadi musuhmu. (*)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mitrapost.com  di Google News. silahkan Klik Tautan dan jangan lupa tekan tombol "Mengikuti"

Jangan lupa kunjungi media sosial kami

Video Viral

Kamarkos
Pojoke Pati