Mitrapost.com – Di balik keindahan alam tropisnya yang sering menyita perhatian, Asia Tenggara menyembunyikan kekuatan dahsyatnya di balik pergerakan lempeng tektonik berupa sesar atau patahan aktif pada kerak bumi, menjadikannya sebagai salah satu kawasan rawan gempa di dunia.
Dalam hal ini, pergerakan yang mampu melepaskan energi berbentuk gempa bumi tersebut memiliki jenis yang beragam, seperti pada sesar geser, sesar naik, maupun sesar turun, yang di antaranya berkontribusi terhadap aktivitas seismik di berbagai wilayah.
Melansir dari CNBC Indonesia, Asia Tenggara dengan letaknya yang berada di pertemuan lempeng utama antara Lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik, memiliki banyak sekali sesar aktif yang berpotensi memicu bencana gempa dahsyat.
Bahkan, beberapa di antaranya juga terkait dengan zona subduksi, di mana satu lempeng tektonik menunjam ke bawah lempeng lainnya hingga menciptakan megathrust earthquake yang dapat menimbulkan tsunami.
Di antara sesar-sesar paling aktif yang ada di Asia Tenggara, Indonesia memiliki tujuh dari sepuluh titik yang paling membentuk peta risiko gempa di kawasan tersebut, selain dari Filiphina dan Myanmar.
Salah satunya adalah Sesar Sumatera (Great Sumatran Fault) yang diketahui membentang sepanjang Pulau Sumatera, mulai dari Aceh hingga Lampung dan memiliki hubungan erat dengan aktivitas subduksi di zona Megathrust Sunda yang sering memicu gempa darat.
Kemudian, zona subduksi Sunda (Sunda Megathrust) yang terletak di sepanjang perbatasan Lempeng Indo-Australia dan menunjam ke bawah Lempeng Eurasia, bertanggung jawab atas banyak bencana besar, termasuk gempa dan tsunami Aceh 2004 serta Gempa Bengkulu 2007.
Selain itu, beberapa titik lainnya di antaranya pada Sesar Laut Banda (Banda Sea Faults), Sesar Palu-Koro, Sesar Cimandiri, Sesar Baribis dan Sesar Citarik, yang keberadaannya menuntut perhatian serius untuk upaya mitigasi bencana. (*)

Redaksi Mitrapost.com






