Mitrapost.com – Perayaan Tahun Baru Masehi yang jatuh setiap 1 Januari kerap dimaknai berbeda oleh berbagai kalangan, termasuk masyarakat Muslim. Di satu sisi, momentum ini identik dengan pergantian kalender dan perayaan bersifat sosial.
Di sisi lain, bagi umat Islam, Tahun Baru Masehi bukanlah perayaan keagamaan, sehingga diperlukan sikap bijak dalam memaknai dan menyikapinya.
Melansir dari NU Online, pergantian waktu dalam perspektif Islam pada dasarnya dipandang sebagai tanda berjalannya usia dan pengingat akan perjalanan hidup manusia. Al-Qur’an berulang kali menegaskan bahwa waktu merupakan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Oleh karena itu, momen pergantian tahun termasuk Tahun Baru Masehi, dapat dimanfaatkan sebagai sarana refleksi diri, evaluasi amal, serta perencanaan kehidupan yang lebih baik ke depan, tanpa harus terlibat dalam praktik yang bertentangan dengan nilai-nilai keislaman.
Bagi sebagian masyarakat Muslim di Indonesia, Tahun Baru Masehi dimaknai secara kultural dan sosial, bukan ritual. Aktivitas seperti berkumpul bersama keluarga, memperbanyak doa, atau melakukan muhasabah menjadi alternatif yang dianggap lebih selaras dengan ajaran agama.
Sikap ini mencerminkan upaya menjaga identitas keislaman sekaligus tetap hidup berdampingan dalam masyarakat majemuk.
Islam sendiri memiliki penanda pergantian tahun berdasarkan kalender Hijriah, yang diawali dengan bulan Muharram. Tahun Baru Hijriah memiliki makna spiritual yang kuat karena berkaitan dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW, yang sarat nilai perjuangan, perubahan, dan perbaikan diri.
Meski demikian, keberadaan kalender Masehi tetap digunakan secara luas dalam urusan administrasi, pendidikan, dan kehidupan sosial, sehingga umat Islam tidak terlepas darinya.
Dalam konteks ini, sikap moderat menjadi kunci. Masyarakat Muslim diajak untuk tidak memandang Tahun Baru Masehi sebagai ajang euforia berlebihan, tetapi sebagai pengingat waktu yang terus berjalan.
Menghindari aktivitas yang berpotensi melalaikan ibadah, menjaga akhlak, serta mengisi pergantian tahun dengan kegiatan positif merupakan bentuk penerapan nilai Islam dalam kehidupan modern.
Dengan demikian, makna Tahun Baru Masehi bagi masyarakat Muslim bukan terletak pada perayaannya, melainkan pada kesadaran akan waktu, evaluasi diri, dan komitmen untuk menjalani kehidupan yang lebih baik, lebih bertanggung jawab, dan lebih bermanfaat bagi sesama di tahun yang akan datang. (*)

Redaksi Mitrapost.com






