Mitrapost.com – Saat mempelajari agama Islam, penting untuk memastikan belajar dari sumber yang terpercaya atau merupakan ahli di bidangnya. Hal ini penting untuk mencegah kita terjerumus aliran sesat yang menyebarkan ajaran-ajaran tidak sesuai kaidah Islam.
Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menyebutkan beberapa hal yang perlu diwaspadai karena mengindikasikan aliran sesat. Sejumlah kriteria atau parameter ini merupakan hasil yang disepakati dalam rapat kerja nasional MUI.
Lantas, apa saja tanda-tandanya? Simak selengkapnya berikut ini, dilansir dari laman MUI!
Apa saja tanda-tanda aliran sesat?
- Mengingkari salah satu rukun iman dan rukun Islam
- Meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i
- Meyakini turunnya wahyu sesudah al qur’an
- Mengingkari otentisitas dari kebenaran al qur’an
- Melakukan penafsiran al qur’an yang tidak berdasar kaidah tafsir
- Mengingkari kedudukan hadits sebagai sumber ajaran islam
- Melecehkan atau mendustakan Nabi
- Mengingkari Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir
- Mengurangi atau menambah pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syariah
- Mengkafirkan sesama muslim hanya karena bukan bagian dari kelompoknya.
Selain itu, MUI juga telah menetapkan kriteria penetapan kafir, kriteria tidak mudah mengkafirkan seseorang, dan kriteria penodaan agama yang juga dijelaskan dalam Undang-undang Republik Indonesia.
Doa agar terhindar dari kesesatan
Dalam sebuah riwayat Imam Abu Dawud, Sayyidah Ummu Salamah Ra berkata: “Tidak pernah sama sekali Rasulullah Saw keluar dari rumah kecuali beliau mengangkat pandangannya ke langit seraya berdoa,
اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ, وَ صلى الله عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ
Allahumma innī `adzūbika an adhilla aw udhalla aw azilla aw uzalla aw adzlima aw udzlama aw ajhala aw yujhala `alayya wa shallallahu `ala Sayyidina Muhammadin wa `ala alihi wa shahbihi wa sallam.
Artinya; “Ya Allah aku berlindung kepadamu dari menyesatkan atau disesatkan, atau menggelincirkan atau digelincirkan, atau mendzolimi atau dizalimi, atau membodohi atau juga dibodohi, dan semoga Allah mencurahkan rahmat dan keselamatan atas junjungan kita Nabi Muhammad dan keluarga serta sahabatnya,” (HR. Imam Abu Dawud). (*)

Redaksi Mitrapost.com






