Mitrapost.com – Seluruh penumpang korban jatuhnya pesawat ATR42-500 di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel) berhasil dievakuasi pada Jumat (23/1/2026). Para korban berhasil ditemukan semuanya di hari terakhir operasi pencarian.
“Alhamdulillah paket 9 pukul 08.55 Wita ditemukan dan tetap dilakukan sesuai rencana operasi tadi malam. Sembari kita mengupayakan untuk evakuasi, kami juga tetap melaksanakan yang utama dalam operasi, yaitu mencari (korban),” kata Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, dikutip Detik.
“Pada pukul 09.16 Wita, Alhamdulillah korban ditemukan, paket 10 sudah ditemukan dan saat ini sementara proses evakuasi,” lanjut dia.
Sebelumnya, proses evakuasi korban dan bangkai pesawat dilakukan oleh tim SAR gabungan, terdiri dari unsur TNI-Polri, Basarnas, hingga pemerintah desa setempat. Petugas gabungan juga bersyukur seluruh korban bisa ditemukan di hari ketujuh pencarian.
“Alhamdulillah hari ketujuh kita bisa temukan seluruhnya, baik benda penting yang di pesawat maupun seluruh korban dan tepat. Dengan sandi hari ini kita gunakan ‘sapu bersih’, Allah meridai sandi tersebut,” ucap Asisten Operasi Kodam XIV Hasanuddin, Kolonel Inf Dody Triyo Hadi.
Sebelumnya, pesawat ATR 400 rute Yogyakarta-Makassar dilaporkan hilang kontak saat menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin pada Sabtu (17/1/2025) siang. Pesawat ini ditumpangi 10 orang, tujuh orang kru pesawat dan tiga orang penumpang.
Tim SAR gabungan sempat mendirikan tenda di sekitar lokasi jatuhnya pesawat. Selama proses operasi, pihaknya terkendala cuaca ekstrem, sehingga evakuasi harus menunggu kondisi cuaca membaik demi keselamatan para petugas.
Operasi ini melibatkan ribuan personel gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, serta unsur potensi SAR dan relawan, dengan dukungan peralatan darat, udara, dan teknologi komunikasi lapangan.
“Saat ini tim SAR bertahan di Puncak Gunung Bulusaraung dengan mendirikan tenda di sekitar lokasi penemuan korban. Evakuasi belum bisa dilakukan karena hujan, angin kencang, serta kabut tebal yang membatasi jarak pandang dan keselamatan personel,” terang Muhammad Arif Anwar selaku SAR Mission Coordinator (SMC). (*)

Redaksi Mitrapost.com






