Mitrapost.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan volatilitas tinggi pada akhir Januari 2026.
Ada kemungkinan konsolidasi jangka pendek yang dipengaruhi oleh adanya sentimen komoditas dan aksi pasar domestik.
Kondisi rupiah yang melemah dapat menekan sentimen pasar dan memicu jual keluar para investor asing. Surplus neraca perdagangan dan inflasi terkendali memberikan sentimen fundamental yang relatif stabil.
Namun ada risiko tekanan jual asing dan kurs rupiah yang melemah bisa memicu koreksi IHSG jangka pendek. Kemudian kondisi geopolitik dan kebijakan fiskal dapat mempengaruhi likuiditas pasar. Selain itu, sektor konsumsi dan perbankan sensitif terhadap perubahan suku bunga Bank Indonesia.
Dengan kondisi tersebut, 5 saham ini berpotensi mengalami pergerakan harga signifikan pada 28 Januari 2026.
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)
BBRI ditutup di angka Rp3.850 pada penutupan perdagangan Senin (26/1/2026). Saham ini diperkirakan bisa naik di level Rp4.200 — Rp4.500 atau 10–18%.
Kondisi tersebut didukung sektor UMKM yang dinilai tahan banting dan likuiditas tinggi. Namun ada risiko volatilitas kurs dan penurunan likuiditas asing bisa memicu gap down.
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)
Saham BMRI ditutup di angka Rp4.910 pada penutupan perdagangan Senin (26/1/2026). BMRI diprediksi bisa naik di kisaran Rp5.500 — Rp6.100 atau 12–25%.
Valuasi historis P/E rendah dibanding riwayatnya sehingga ada potensi rebound. Hal itu didukung dengan cakupan bisnis perusahaan yang luas dan adanya dukungan likuiditas domestik.
Namun ada risiko sensitivitas terhadap suku bunga dan kredit bermasalah jika ekonomi stagnan.
PT Astra International Tbk (ASII)
Saham ini ditutup di angka Rp6.875 pada penutupan perdagangan Senin (26/1/2026). Saham ini berpotensi naik 8–15% atau di level Rp7.400 — Rp7.900.
Fundamental perusahaan yang kuat dapat menjadi pertimbangan yaitu adanya diversifikasi di otomotif, jasa keuangan, alat berat. Didukung dengan permintaan alat berat dan otomotif rebound berpotensi menarik investor. Namun ada risiko siklus industri otomotif dan suku bunga bank dapat menekan margin.
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
ANTM ditutup di angka Rp4.760 pada penutupan perdagangan Senin (26/1/2026). Saham ANTM berpotensi naik hingga Rp5.300 — Rp5.700 atau 12–20%.
ANTM dapat menjadi pertimbangan karena pergerakan komoditas (emas, nikel) sering memicu volatilitas tinggi. Hal itu didukung dengan permintaan logam dan harga komoditas global naik bisa meningkatkan laba. Namun ada risiko harga komoditas global turun bisa mengikis profitabilitas cepat.
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO)
Saham GOTO ditutup di angka Rp68 pada penutupan perdagangan Senin (26/1/2026). Saham ini berpotensi mengalami keniakan Rp78 — Rp88 atau 15–30%.
Potensi pertumbuhan ekosistem digital Indonesia masih besar dapat menjadi alasannya. Didukung dengan ekspansi platform fintech dan e-commerce. Namun ada risiko masih rugi dan tekanan margin operasi tinggi. Selain itu, saham sangat sensitif sentimen pasar. (*)
Disclaimer: Perlu diingat bahwa analisis ini hanya berdasarkan data yang tersedia dan tidak dapat menjamin hasil yang pasti. Pastikan Anda melakukan riset dan analisis sendiri sebelum membuat keputusan investasi.
Redaksi Mitrapost.com


