Semarang, Mitrapost.com – Guna mengatasi masalah utama yang telah melumpuhkan kawasan jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa seperti bencana banjir dan kemacetan kronis di perlintasan sebidang, pembangunan elevated railway atau rel layang jadi salah satu kebutuhan yang mendesak di Kota Semarang.
Melansir dari Tribun Jateng, Akademisi Program Studi (Prodi) yang ada di Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno memaparkan, rel layang tersebut dibangun sepanjang 7,4 kilometer (km).
Dalam hal ini pembangunan rel layang yang membentang sepanjang 7,4 km tersebut telah dilengkapi dengan adanya dua stasiun layang utama di Kota Semarang, yaitu Stasiun Semarang Tawang (SMT) dan Stasiun Semarang Poncol (SMC).
“Pembangunan rel layang di Semarang menjadi kebutuhan mendesak akibat penurunan muka tanah (land subsidence) di wilayah pesisir yang terus terjadi,” jelas Djoko dalam keterangannya, dikutip Rabu (28/01/2026).
Sementara, jalur rel yang ada di bawahnya (at grade) masih tetap dipertahankan guna mendukung operasional kereta barang menuju Pelabuhan Tanjung Emas, Container Yard Ronggowarsito, serta ke jalur utama logistik lintas Jakarta–Surabaya.
Oleh sebab itu, sebagai langkah mitigasi banjir rob, Djoko menilai jika infrastruktur tersebut dijadikan sebagai solusi aktif atas lumpuhnya jalur kereta nasional yang melintasi arah Jakarta–Surabaya yang kerap terendam di kawasan Kaligawe.
“Dengan mengangkat rel jauh di atas permukaan air, perjalanan kereta api kini dapat dipastikan tetap aman dan lancar tanpa harus memutar ke jalur selatan,” ucapnya.
Karena menurutnya, gangguan pada jalur kereta api di Kota Semarang hingga saat ini telah berdampak secara langsung oleh stabilitas rantai pasok nasional, yang selama ini menjadi urat nadi logistik Pulau Jawa.
“Rel layang hadir sebagai solusi permanen yang memisahkan infrastruktur kereta api sepenuhnya dari ancaman genangan air laut dan penurunan tanah di masa depan,” katanya. (*)

Redaksi Mitrapost.com






