Pati, Mitrapost.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati, Jawa Tengah mencatat ada sebanyak 35 kasus leptospirosis, sementara empat diantaranya meninggal dunia. Angka itu berdasarkan data yang dihimpun oleh Dinkes Pati per tanggal 30 Januari 2026.
PIC TBC Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Pati, Yanti, menyebut sebaran kasus itu ditemukan di sejumlah kecamatan, di antaranya Juwana, Trangkil, Margoyoso, Dukuhseti, Batangan dan Wedarijaksa.
Yanti menjelaskan, leptospirosis ini disebabkan oleh infeksi bakteri leptospira atau yang ditularkan melalui urine tikus. Dengan demikian, Yanti meminta masyarakat untuk waspada terhadap ancaman leptospirosis, terlebih pasca banjir ini.
“Jadi ini menjadi penyakit yang perlu diwaspadai apalagi pasca banjir,” jelas Yanti.
Dinkes Kabupaten Pati telah menginstruksikan kepada petugas puskesmas untuk menyalurkan desinfektan, berupa sabun deterjen kepada warga yang terdampak banjir. Langkah ini, dinilai dapat meminimalisir kasus leptospirosis di Pati.
“Pasca banjir ini kita sudah melaksanakan pemberitahuan kepada petugas puskesmas agar memberikan desinfektan berupa sabun ‘Boom’ ke genangan air pasca banjir, terus apabila rumah itu di pel pakai sabun ‘Boom’ (Deterjen),” katanya.
Yanti menjelaskan, gejala yang ditimbulkan dari leptospirosis ini di antaranya demam tinggi, tubuh terasa lemas hingga nyeri pada betis. Menurutnya, gejala itu apabila tidak segera ditangani bisa menyebabkan gagal ginjal.
“Kalau sampai berat itu terjadi pada teris pada mata (kekuningan), gagal ginjal akut itu yang paling berbahaya, kalau tidak segera ditangani kalau terlambat itu jadi gagal ginjal akut sehingga menyebabkan kematian,” jelasnya.
Lebih lanjut, pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan hingga membersihkan genangan air pasca banjir.
“Melakukan tadi pencegahan dengan lingkungan yang bersih, sehat, sampah, genangan air tidak ada,” pungkasnya. (*)

Wartawan Mitrapost.com
