Mitrapost.com – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mencatatkan bahwa jumlah pasien gagal ginjal kronis yang menjalani prosedur bernama hemodialisis atau cuci darah di Indonesia sepanjang tahun 2024 alami peningkatan hingga sebesar 134.057 jiwa.
Ironinya, angka tersebut belum termasuk pada bagian pasien yang tidak tercatat berada dalam daftar keanggotaan sebagai peserta BPJS Kesehatan di Negara Republik Indonesia (RI).
Melansir dari Republika, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi, menyebut bahwa sebagian besar kasus gagal ginjal dipicu oleh munculnya penyakit tidak menular yang tidak terkontrol.
Di antara sejumlah penyakit tidak menular yang tidak terkontrol tersebut, di antaranya adalah hipertensi, diabetes melitus, beserta faktor lainnya seperti infeksi maupun riwayat penyakit keturunan.
“Banyak penderita penyakit ginjal kronis berawal dari hipertensi dan diabetes melitus yang tidak terkontrol. Karena itu, deteksi dini menjadi sangat penting,” jelas Siti Nadia, dikutip Sabtu (07/02/2026).
Oleh sebab itu, sebagai bagian dari langkah pengendalian, Kemenkes mendorong sejumlah mayarakat untuk mulai melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, utamanya bagi yang memiliki faktor risiko maupun riwayat keluarga dengan penyakit ginjal.
Kini, Pemerintah RI tengah menggagas Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dapat dimanfaatkan oleh siapa saja guna mendeteksi kemungkinan adanya gangguan ginjal secara lebih cepat.
“Melalui program CKG, masyarakat bisa memeriksakan faktor risiko penyakit ginjal sejak dini. Jika terdiagnosis hipertensi atau diabetes, lakukan pengobatan secara teratur,” katanya. (*)

Redaksi Mitrapost.com






