Mitrapost.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama satu pekan terakhir menunjukkan pergerakan cenderung fluktuatif. Pascakoreksi akhir Januari, kondisi pasar berkonsolidasi dan sempat menguat pada pertengahan minggu.
Meski demikian, akhir pekan kembali turun akibat respon pasar terhadap sentimen global dan domestik yang negatif. Secara keseluruhan, pergerakan mingguan cenderung bearish atau mengalami tekanan jual.
Arah potensial pada Senin (9/2/2026), kemungkinan belum ada momentum bullish yang kuat karena kemungkinan tekanan jual dan bias jangka pendek masih cukup kuat. Indeksnya masih rawan turun lanjutan jika sentimen belum membaik
Meski demikian, scalping tetap bisa dilakukan oleh trader karena pasar masih volatile dengan range intraday lebar, sehingga banyak peluang untuk meraup keuntungan kecil dari scalping. Manfaatkan fluktuasi kecil dan pilih saham dengan likuiditas tinggi!
5 Saham Berpotensi untuk Scalping 9 Februari 2026!
🏦 BBRI — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
BBRI merupakan saham yang sangat likuid, didukung dengan volume dan nilai transaksi tinggi secara konsisten di BEI. Kinerja keuangannya juga cukup stabil dan kredibel, serta termasuk big cap company.
Berdasarkan teknikalnya, BBRI menunjukkan bias Buy pada momentum harian dengan banyak MA (5–200) mengarah positif dan MACD bullish, meski ada variasi timeframe lebih rendah. Volatilitas tidak terlalu liar dan spread sempit, sehingga baik untuk scalping dengan keuntungan kecil.
⛏️ ANTM — PT Aneka Tambang (Persero) Tbk
ANTM juga termasuk saham dengan likuiditas tinggi, didukung volume harian cukup besar di bursa efek, sehinggi memungkinan scalping tanpa terlalu sulit exit/entry posisi. Perusahaan mencatat rentang laba positif dan struktur neraca kuat dengan pertumbuhan aset serta profil fundamental pertambangan solid.
Untuk scalping intraday, gunakan MA jangka pendek (MA5/MA10), serta MACD histogram dan crossover di timeframe 5–15 menit untuk entry/exit jitu. Volatilitas ANTM lebar karena sering mendapat price reaction terhadap harga komoditas global.
📦 3) CDIA — PT Chandra Daya Investasi Tbk
PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) merupakan perusahaan investasi, termasuk logistik dan sektor lain. CDIA terkenal karena volume harian yang sering tinggi jika IHSG sedang aktif, sehingga memberi spread lebih sempit dan peluang scalping.
Harganya cenderung volatile sehingga cocok untuk scalping pada momentum breakout (tutup pada Rp1.135 – 1.150). Gunakan timeframe 1–5 menit untuk entry/exit. Volume sering memicu range lebar beberapa jam, sehingga cocok untuk scalper cepat.
₿ COIN — PT Indokripto Koin Semesta Tbk
PT Indokripto Koin Semesta Tbk merupakan emiten aset kripto dan jasa kustodian aset digital pertama di BEI. Market capital-nya relatif besar untuk saham mid-cap dan sering dipantau trader, sehingga likuiditasnya bisa naik saat pasar aktif. Perusahaan masuk sektor aset kripto dan futures di Indonesia memicu minat trader jangka pendek.
COIN sering menunjukkan volatilitas tinggi dan range harian lebar lebih dari rata-rata, sehingga cocok untuk scalping. Gunakan MA jangka pendek dan MACD histogram reversal pada timeframe 5 menit untuk entry, karena harga sering cepat berubah arah. Scalping cocok saat volume tinggi dengan konfirmasi breakout pivot intraday, sehingga potensi arah harga berubah lanjut naik.
🛠️ 5) PTRO — PT Petrosea Tbk
Perusahaan ini bergerak di sektor kontraktor energi, tambang, dan engineering. Likuiditasnya cukup baik dengan kerja kontrak energi dan tambang sering menyedot volume pasar, sehingga memberi cukup transaksi untuk scalping.
Volatilitas saham energi cenderung non-linear. Intraday range yang lebar bisa terjadi pada reaksi berita industri saat adanya proyek atau kontrak). Kondisi ini cocok untuk trader yang mencari pergerakan kecil. Gunakan MA9/MA20 crossover di timeframe 5–15 menit dan MACD histogram bisa menandakan entri cepat baik arah naik atau turun. (*)
Disclaimer: Perlu diingat bahwa analisis ini hanya berdasarkan data yang tersedia dan tidak dapat menjamin hasil yang pasti. Pastikan Anda melakukan riset dan analisis sendiri sebelum membuat keputusan investasi.

Redaksi Mitrapost.com





