Mitrapost.com – Sebagai bagian dari upaya pengembangan ekosistem hydrogen sekaligus penguatan ketahanan energi nasional, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (ESDM RI) secara resmi melakukan peluncuran berupa Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) 2026.
Melansir dari Detik Finance, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani, menjelaskan bahwa agenda yang dilaksanakan di Direktorat Jenderal EBTKE ini digunakan untuk menumbuhkan ekosistem industri.
Hal tersebut dikarenakan selama ini, hidrogen hanya baru digunakan di dalam industri pupuk, ataupun sebagai bahan baku mentega dan minyak goreng, atau bahkan bagi deterjen.
“Nah sekarang dikenalkan hidrogen sebagai bahan baku untuk energi. Nah di sini kita harapkan perlu wadah-wadah yang seperti ini mengakomodir bisnis matching,” jelas Eniya, dikutip Kamis (12/02/2026).
Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri ESDM, Yuliot juga menyebutkan bahwa pengembangan ekosistem hidrogen dapat dijadikan sebagai salah satu strategi yang dapat mendorong ketahanan pangan dan hilirisasi industri.
Diketahui, negara Indonesia sendiri disebut tengah memiliki potensi energi baru terbarukan (EBT) mencapai sekitar 3.600 GWh. Sementara, konsumsi hydrogen nasional mencapai kisaran 1,75 juta ton per tahun.
Dengan angka konsumsi tersebut, pemanfaatan terbesar terlihat berada di sektor pupuk urea yang mencapai hingga 88%, amonia 4%, dan kilang minyak 2%. Menurut Yuliot, hidrogen disebut mampu mengurangi ketergantungan yang sama pada impor energi. (*)

Redaksi Mitrapost.com






