Mitrapost.com – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menyoroti frekuensi penerbangan Garuda Indonesia dengan Singapore Airlines untuk rute Indonesia-Singapura yang dinilai memiliki perbandingan cukup timpang.
Melansir dari Detik Finance, Managing Director Stakeholder Management and Communications BPI Danantara, Rohan Hafas menjelaskan bahwa Indonesia tercatat memiliki kesepakatan resiprokal bisnis (penyesuaian tarif secara timbal balik) dengan sejumlah negara terkait penerbangan.
Jika maskapai Republik Indonesia (RI) menginginkan pembukaan penerbangan langsung ke suatu negara, maka timbal balik yang harus diberikan adalah memberikan izin kepada negara tersebut untuk membuka penerbangannya ke RI.
Hal tersebut juga telah berlaku bagi kesepakatan yang terjadi antara RI dan Singapura, di mana maspakai Garuda Indonesia yang kini telah membuka rute penerbangan secara langsung ke negara tersebut, maka secara otomatis Singapore Airlines juga melakukan hal yang sama ke Indonesia.
Namun menurut BPI Danantara, masalah terkait kesepakatan tersebut mulai muncul dari adanya frekuensi penerbangan yang dinilai timpang. Dalam hal ini, Garuda Indonesia hanya membuka 1-2 kali penerbangan per hari, sementara Singapore Airlines melakukan 6-8 penerbangan per hari.
“Kali ini Indonesia tertindas nih resiprokalnya, Singapore Airlines per hari dengan pesawat besar ya A330-300 rata-rata sih. Dia bisa ke sini 6-8 kali per hari, Garuda ke sana cuma 1-2 kali per hari,” jelas Rohan dalam diskusi di Wisma Danantara, dikutip Jumat (27/02/2026).
Menurut Rohan, Singapore Airlines secara optimal mampu memaksimalkan banyaknya frekuensi penerbangan tersebut sebagai sebuah sumber pendapatan, sementara Garuda Indonesia tidak dapat melakukan hal yang sama.
“Sekitar 65% pendapatan Singapore Airlines datang dari rute yang 6-8 kali dari Indonesia itu dibanding dia ke New York dan sebagainya. Karena ke sana beban bersaing sama Qatar Airways sama Emirates dan sebagainya tinggi, jadi untungnya terlalu tipis di long haul,” katanya.
“Itu yang harus diperbaiki, itu reciprocal agreement-nya ada. Masing-masing airline itu pasti punya di seluruh dunia juga begitu. Jadi reciprocal-nya mau diseimbangkan,” lanjutnya. (*)

Redaksi Mitrapost.com






