Mitrapost.com – Meningkatnya konflik yang terjadi di negara Timur Tengah mulai memicu kekhawatiran terhadap ketersediaan maupun harga kebutuhan pokok dalam negeri, termasuk obat-obatan.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI), Taruna Ikrar, menyebut bahwa situasi global saat ini dijadikan sebagai sebuah sorotan yang serius, mengingat Indonesia terkait dengan persediaan obat-obatan hingga kini masih bergantung pada impor.
Sementara, Taruna juga mengungkapkan bahwa situasi yang kian memanas di wilayah Timur Tengah memunculkan adanya potensi dari dampak langsung terhadap beban biaya obat impor yang masuk ke pasar domestik.
“Kemudian daripada obat kita masih banyak impor, dari konflik di Timur Tengah, itu pasti berdampak,” jelas Taruna Ikrar di Kantor BPOM, Jakarta Pusat, dikutip dari Detik, Jumat (06/03/2026).
Meski begitu, Taruna menegaskan terkait dengan masyarakat yang tidak perlu panik terhadap ketersediaan barang. Menurutnya, stok obat-obatan dalam negeri saat ini masih berada dalam kategori cukup berdasar pada perhitungan yang dilakukan bersama produsen dan perusahaan farmasi besar.
“Karena kita menganggap ketahanan obat dan pangan ini bagian dari ketahanan nasional, kita beruntung karena beberapa tahun lalu kita sudah menyiapkan, menurut hitungan-hitungan kita yang tersedia dari perusahaan-perusahaan besar farmasi, kita masih punya kecukupan,” ucapnya.
Hal ini dapat terjamin, mengingat sejak beberapa tahun lalu pemerintah melakukan langkah antisipasi yang diklaim mampu menjaga stabilitas pasokan di tengah ketidakpastian kondisi global. Oleh karena itu, pihaknya meyakini bahwa kelangkaan untuk saat ini bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan.
“Jadi isu obat, kita tidak akan mengalami kelangkaan obat, termasuk makanan,” pungkasnya. (*)

Redaksi Mitrapost.com






