Mitrapost.com – Kepala Dinas Perempuan dan Anak (DP3AP2KB) Jawa Tengah, Ema Rachmawati mengungkapkan kondisi santri korban pencabulan pendiri ponpes di Pati.
Ema menyebut, korban mengalami trauma berat akibat kerjadian tersebut. Aksi bejat dilakukan pelaku saat korban masih sekolah. Meski begitu, hingga korban berusia 21 tahun, korban masih sering menangis dan merasa takut.
Ia juga merasa jijik setiap kali teringat peristiwa masa lalunya tersebut. Terlebih, pelaku melakukan aksinya berulang sejak korban masih kelas VIII SMP sampai lulus MA.
“Saya tanya, ‘Kalau mengingat kejadian itu apa yang kamu rasakan?’ Dia bilang nangis. Kalau mengingat masih nangis, masih jijik, masih takut,” ujarnya dilansir dari Kompas.
Korban ternyata selama sekolah telah memendam semuanya sendiri. Ia juga tak berdaya untuk bercerita kepada orang lain karena rasa takutnya.
Namun setelah lulus dan tak lagi di pesantren tersebut, ia akhirnya memberanikan diri bersuara.
“Baru setelah lulus dia berani cerita ke ayahnya,” jelas Ema.
Kini ia pun mendapatkan pendampingan psikologis dari UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Pati. Terlebih ia berencana menikah dalam waktu dekat.
“Calon suaminya juga perlu memahami kondisinya,” ujarnya.
Diketahui para korban pencabulan mengalami tekanan yang serupa. Mereka juga takut pernyataan yang dilontarkan bisa berbalik menyerang dirinya. Sehingga mereka memilih tak bersuara.
“Mereka masih berada di pesantren, jadi enggak berani. Akhirnya bilang itu fitnah. Korban takut karena pelaku dianggap tokoh agama, dianggap enggak mungkin salah,” ujarnya.
DP3AP2KB Jawa Tengah pun meminta aparat melakukan visum psikiatrikum kepada korban. Sehingga diketahui dampak pada korban.
“Trauma itu nyata dan bisa terbawa sampai dewasa,” paparnya. (*)

Redaksi Mitrapost.com






