Mitrapost.com – Sejumlah korban atas kasus dugaan penipuan PT Khazanah Tamma International atau Hanania Travel (Hanania Group) mengungkapkan berbagai dalih yang dilakukan pelaku untuk berkelit dari kewajibannya melakukan pemberangkatan terhadap para calon jemaah umrah.
Dalam hal ini, salah satu korban bernama Uli yang seharusnya berangkat umrah pada 26 Maret 2026, mengaku mendapatkan informasi pembatalan pada 18 Maret 2026 dengan alasan terjadinya perang Timur Tengah atau force majeure, diperkuat oleh keberangkatannya yang transit di Dubai.
“Mayoritas kami tidak semuanya itu langsung. Kami banyak penerbangannya yang transit, transitnya itu Dubai. Jadi itu yang menjadi landasan utama mereka membatalkan keberangkatan kami, force majeure dalam tanda kutip,” ujar Uli dalam konferensi pers, dikutip dari Tirto.
Namun, sejumlah hal mencurigakan mulai terlihat ketika banyak travel umrah lainnya yang tetap melakukan pemberangkatan terhadap para jemaahnya di waktu yang sama.
Hal tersebut membuat pihak PT Khazanah Tamma International melakukan mediasi dengan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj), yang menghasilkan kesepakatan adanya pengembalian uang (refund) lantaran alasan force majeure tidak dapat lagi digunakan.
“Sehingga di hadapan Kemenhaj waktu itu Pak Farhan dan Bu Nisa langsung menyepakati bahwa masih sempat ya ada mereka bilang, mereka masih yakin itu karena force majeure. Tapi kita tetap menuntut dan akhirnya disepakati bahwa oke refund bisa 100 persen dan alasan force majeure itu tidak bisa lagi digunakan,” jelasnya, dikutip Rabu (03/06/2026).
Selain Uli, sejumlah calon jemaah lainnya juga mengalami pembatalan keberangkatan dengan dijanjikan pilihan antara refund 100 persen atau reschedule. Namun, sebagian calon jemaah justru mengalami pemotongan biaya senilai Rp4 juta lantaran alasan force majeure.
Sementara korban lainnya yang bernama Anny Rofi Sulistyani, justru menyebut Direktur Hanania Group, Ahmad Syah Farhan (tersangka), mengaku dalam mediasi di Kemenhaj jika alasan pembatalan keberangkatan adalah miss management yang mengakibatkan minus-nya kas operasional.
“Sampai akhirnya statement terakhir dari direktur yang mengakui, bahwa ini memang alasan miss management yang mengakibatkan dia cashflow operasionalnya minus,” katanya. (*)

Redaksi Mitrapost.com






