Mitrapost.com – Viral di media sosial petani yang memakai obat paracetamol dan vitamin B kompleks untuk tanaman cabai.
Disebutkan, obat tersebut dipakai karena dampak pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Terkait hal itu, pihak Kementerian Pertanian (Kementan) buka suara. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian (Kementan), Muhammad Agung Sunusi mengatakan bahwa pemakaian obat tersebut tak disarankan.
Selain itu, belum ada bukti ilmiah yang menyebut bahwa penggunaan paracetamol bisa meningkatkan produktivitas cabai.
“Namun demikian, hingga saat ini belum terdapat bukti ilmiah yang memadai yang menunjukkan bahwa paracetamol dapat meningkatkan produktivitas cabai secara konsisten, aman, dan ekonomis di tingkat lapangan. Oleh karena itu, praktik tersebut tidak dapat dijadikan acuan budi daya yang direkomendasikan,” ujarnya dilansir dari Bisnis.com.
Kementan pun mendorong petani untuk menggunakan pupuk, prestisida, dan zat pengatur tumbuh yang sudah terdaftar, memiliki dasar ilmiah, dan memiliki izin edar.
Meski belum ada kajian resmi mengenai penggunaan paracetamol untuk pertanian, namun pihaknya mengingatkan penggunaan obat manusia pada tanaman memiliki sejumlah risiko. Diantaranya bisa menimbulkan residu senyawa farmasi pada lingkungan dan masuk rantai pangan jika dilakukan berlebihan.
Kemudian dapat mengganggu keseimbangan mikroorganisme tanah dan ekosistem pertanian.
“(Ketiga) berpotensi menyebabkan pemborosan biaya produksi karena efektivitasnya belum terbukti,” paparnya.
Sejumlah penelitian internasional mengungkapkan bahwa tanaman dapat menyerap paracetamol dari media tanam dan mengakumulasikannya pada jaringan tanaman. Sehingga perlu kehati-hatian dalam penggunaannya.
Namun penelitian dilakukan dalam kondisi laboratorium dan belum bisa menjadi dasar penggunaan zat tersebut untuk tanaman pertanian.
Menurutnya, langkah petani menggunakan paracetamol dan vitamin B complex pada cabai adalah untuk menekan biaya produksi. (*)
“Pendekatan budidaya yang mengacu pada Good Agricultural Practices (GAP) tetap menjadi pilihan yang paling aman bagi petani maupun konsumen,” ujarnya. (*)

Redaksi Mitrapost.com


