Mitrapost.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tipis 0,01% ke level 6.517,23 pada akhir sesi pertama perdagangan Senin, 31 Agustus 2026, dipengaruhi oleh sentimen dari pidato hawkish, pejabat The Fed, serta meningkatnya ketegangan geopolitik Amerika Serikat (AS)-Iran yang memicu kekhawatiran kenaikan harga minyak.
Untuk Selasa, 1 September 2026, diprediksi adanya peluang pasar yang menjadi lebih normal setelah tekanan mekanis MSCI selesai, tetapi bukan berarti langsung bullish agresif. Investor kemungkinan mulai kembali memperhatikan fundamental emiten, rupiah, inflasi/PMI domestik, arah yield AS, dan foreign flow.
Beberapa saham yang memperoleh kenaikan bobot dalam MSCI seperti BBCA, BBRI, TLKM, ASII dan BBNI berpotensi mendapatkan dukungan teknis, sementara saham yang terkena pengurangan/deletion perlu diwaspadai.
BBRI — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
Perbankan besar merupakan salah satu sektor yang paling penting untuk menentukan apakah rebound IHSG setelah MSCI dapat berlangsung sehat.
Dalam hal ini, BBRI memiliki katalis teknis berupa kenaikan bobot MSCI yang secara mekanis berpotensi menghasilkan permintaan, terlihat dari penutupan perdagangannya di angka Rp3.190.
Menariknya, BBRI tidak hanya bergantung pada sentimen MSCI, tetapi likuiditas tinggi dan statusnya sebagai big bank membuatnya lebih mudah menyerap perubahan arus dana dibanding saham lapis dua, dengan prediksi kenaikan kisaran Rp3.220–3.280.
BBCA — PT Bank Central Asia Tbk
Pergerakan BBCA biasanya tidak seekstrem saham komoditas, tetapi justru karakter tersebut relevan ketika pasar baru keluar dari periode rebalancing dengan volatilitas tinggi, terlihat dari penutupan perdagangannya di angka Rp6.475.
BBCA juga termasuk saham yang mendapat estimasi tambahan arus dana dari perubahan bobot MSCI. Jika tekanan akibat rebalancing sudah terserap, peluang technical rebound menjadi lebih menarik dengan kisaran Rp6.500–6.550.
TLKM — PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk
Saham TLKM menarik karena kombinasi likuiditas besar, karakter defensif, dan katalis rebalancing. Selain itu, TLKM juga termasuk saham yang diperkirakan memperoleh tambahan bobot, terlihat dari penutupan perdagangannya di angka Rp2.570.
Ketika IHSG memasuki September dengan risiko global yang masih tinggi, sektor telekomunikasi cenderung lebih rasional untuk dipertimbangkan dibanding saham yang sepenuhnya bergantung pada momentum komoditas, dengan kisaran Rp2.600–2.670.
ASII — PT Astra International Tbk
Diketahui, bisnis saham ASII terdiversifikasi melalui otomotif, jasa keuangan, alat berat, agribisnis, hingga infrastruktur sehingga tidak terlalu bergantung pada satu katalis, terlihat dari penutupan perdagangannya di angka Rp4.800.
Dari sisi pasar, ASII juga termasuk saham yang mendapatkan estimasi tambahan passive inflow akibat perubahan bobot MSCI, dengan kisaran Rp5.000–5.100.
BBNI — PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
Diketahui, saham BBNI menjadi pilihan kelima karena momentum perbankannya relatif lebih menarik dibanding beberapa sektor yang masih berisiko terkena profit taking, terlihat dari penutupan perdagangannya di angka Rp3.780.
BBNI juga memberikan diversifikasi terhadap BBRI dan BBCA, sehingga lima saham tidak seluruhnya bergantung pada satu emiten. Dengan demikian, target kenaikan untuk saham BBNI ditentukan berdasarkan dengan kisaran Rp3.860–3.950. (*)
Disclaimer: Perlu diingat bahwa analisis ini hanya berdasarkan data yang tersedia dan tidak dapat menjamin hasil yang pasti. Pastikan Anda melakukan riset dan analisis sendiri sebelum membuat keputusan investasi.

Redaksi Mitrapost.com





