Mitrapost.com – Rangkaian pertunjukan Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 resmi berakhir. Sebelumnya, panggung SIPA 2026 digelar selama tiga hari sejak 10-12 September 2026 di Pura Mangkunegaran, Surakarta.
Wakil Waki Kota Surakarta, Astrid Widyani, turut menyampaikan apresiasinya terhadap acara dan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Menurutnya, SIPA memberikan ruang bagi para seniman, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, untuk berdialog lewat karya-karyanya.
“SIPA tidak hanya menjadi sebuah pertunjukan, namun menjadi sebuah ruang dialog berbudaya di Kota Surakarta dan menjadi ruang dari para seniman nusantara dan mancanegara yang dapat memperluas ruang apresiasi budaya,” kata Astrid saat memberikan sambutan.
“Terimakasih kepada SIPA Community, Mangkunegaran, serta pihak yang bekerjasama dalam menghadirkan pertunjukan budaya ini,” lanjut dia.
Lebih lanjut, ia terus memberikan dukungan pada SIPA untuk semakin berkembang dan berdaya saing hingga ke kancah internasional. Ajang seperti ini memberikan kesempatan bagi seniman untuk saling memperkenalkan budaya daerah maupun negara masing-masing.
“Kami mendukung terus kegiatan budaya yang membawa Kota Solo ke kancah Internasional. Selamat atas kesuksesan acara SIPA 2026, harapannya agar SIPA semakin berkembang secara inklusif dan berdaya saing,” lanjut dia.
Rangkaian pertunjukan hari terakhir diawali dengan penampilan Aceh Performing Art (APA) ISBI Aceh melalui karya “TIGA” yang mengeksplor tubuh sebagai medium ekspresi. Seniman SyuRei by Ryukyu Art Embassy juga kembali membawakan “Okinawan Dance” di hari ketiga.
Rangkaian pertunjukan dilanjutkan dengan penampilan Sanggar Bunga Rosina dari Dumai, Riau, dengan karya “Puteri Sri Bunga Tanjung”. Penampilan ini menghadirkan kekayaan cerita dan tradisi Melayu dan Riau.
Delegasi dari Korea Selatan, Contemporary Dance Company Jayu, turut memberikan pertunjukan terbaiknya dalam “Obscured Silence”. Mereka membawa vinyl sebagai bagian keunikan pertunjukan yang ditampilkan.
Company Danzak dari Jepang yang menampilkan tari flamenco melalui karya bertajuk “BIRDA”. Tarian ini merepresentasikan burung bangau sebagai perantara alam dan manusia.
Penampilan selanjutnya dari Sanggar Seni TITIAN AKA, Sumatera Barat, yang menghadirkan karya “Retaknya Pelita”. Selanjutnya, KITA! 1010 SEPTET dari Jepang menampilkan karya “Noisy Bodies & Jumping Voices”, berkolaborasi dengan Gondrong Gunarto.
Penampilan tersebut menjadi sajian penutup yang menghadirkan eksplorasi gerak dan suara dengan perpaduan alat musik piano, suling, biola, double bass, marimba, dan drum.
Perhelatan kemudian ditutup secara resmi melalui Closing Ceremony yang ditandai dengan pemukulan kenong dan penampilan spesial oleh Wakil Walikota Surakarta yang membawakan lagu “Indonesia Jaya”. (*)

Redaksi Mitrapost.com





