oleh

Upaya BPP Gabus Tingkatkan Minat Bertani Organik

Pati, Mitrapost.com – Koordinator BPP (Balai Penyuluhan Pertanian) Kecamatan Gabus, Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Pati, Eny Prasetyowati mengungkapkan, gairah para petani untuk kembali bertani padi secara organik meningkat.

Dispertan Pati berkomitmen akan mengawal dan mendukung eksistensi para petani padi organik di Pati dalam rangka pengembangan pertanian yang berkelanjutan dan kesejahteraan pertani di Kabupaten Pati. Lebih-lebih budidaya padi organik diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pupuk kimia sintetis di kalangan petani.

“Gerakan ini sudah muncul lama, tapi masih masing-masing petani. Biasanya di setiap kecamatan atau desa ada pioner yang mulai meninggalakan pupuk kimia sintetis,” Kata Eny Saat diwawancarai Mitrapost.com di Kantor Dispertan Pati belum lama ini.

Baca juga: Video : Dispertan Pati Dukung Kelompok Tani di Gabus Kembangkan Pertanian Organik

Bukannya tanpa halangan, Eny mengaku para petani padi organik sering dianggap antimainstream dengan petani yang lain. “Karena dianggap tidak umum kadang kala dibuli kanan-kiri. Saat di Gabus, pertama saya jadi penyuluh di sana memang sulit,” imbuh Eny.

Namun dengan kerjaannya waktu dalam dua tahun di Gabus Dispertan Pati telah memiliki dua kelompok tani padi organik, diantaranya Kelompok Tani (Poktan) Bancak, Desa Gabus dengan anggota 12 orang dan dengan luasan lahan 3,61 hektare. Poktan Bancak diketahui telah mendapatkan sertifikat dan diberikan hak untuk menggunakan Logo Organik Indonesia pada produknya.

Kelompok Tani kedua yakni Gapoktan Usaha Jaya dari Desa Tambahmulyo, Kecamatan Gabus, dengan lahan seluas 8 hektare. Meski kelompok ini belum mendapatkan sertifikat organik namun telah mendapatkan pengakuan sebagai gabungan kelompok tani yang menanam padi konversi (perlakuan) organik.

Baca juga: Buka 600 Hektare Lahan, Dispertan Pati Tingkatkan Budidaya Porang

Pada panen perdana padi konversi organik di Desa Tambahmulyo, para petani mampu menghasilkan gabah sekitar 5-6 ton per hektare. Seiring berjalannya waktu, dan produktivitasnya diprediksi akan meningkat seiring dengan meningkatnya kesuburan tanah.

Dengan sistem organik, Eny mengatakan petani keuntungan dari sarana produksi yang lebih murah sehingga hemat biaya dan harga jual gabah, berasnya lebih tinggi. Harga gabah konversi organik terpaut Rp1000 lebih mahal dari gabah konvensional. Diketahui harga beras konversi organik di kisaran Rp13rb-Rp15 ribu per kilo.

Komentar

Berita Terkait