oleh

Trangkil Panen Raya, Harga Lelang Gula Belum Sesuai Harapan

Pandawa BPJS JKN PATI

Pati, Mitrapost.com Tanaman tebu petani Kecamatan Trangkil Kabupaten Pati sudah memasuki musim panen. Sayangnya, harga gula masih belum tinggi meskipun kualitasnya sudah bagus.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Trangkil, Sutriyono, mengatakan tebang pertama sudah dilakukan sejak tanggal 18 atau 19 April lalu.

BPKAD Pati

“Dan sudah mulai giling di pabrik Gula Trangkil pada tanggal 20 lalu. Selain di Trangkil sebagian di Pabrik Gula Pakis,” kata Sutriyono, Kamis (22/4/21).

Sutriyono mengaku sejak tahun lalu harga gula belum tinggi meski kualitas tebunya sudah bagus.

“Para petani memang sejak tahun kemarin kurang greget mas, harga gula kemarin kurang bagus akhirnya lahan tebu di Trangkil tahun ini ya stagnan,” katanya.

Baca Juga :   Realisasi Kemandirian Fiskal Pati Makin Molor Akibat Pandemi

Baca juga: Dorong Produktivitas Tebu, Produksi Gula di Pati Capai 40 Juta Kilo

Harga lelang gula tahun lalu berada pada angka Rp10.000 hingga Rp10.500. Sementara tahun ini masih di angka Rp10.900 per kilogramnya.

“Kalau permintaan petani ya Rp11.500 minimal. Soalnya HPP (harga pembelian pemerintah) belum turun,” imbuhnya.

Sementara di pasar, ia memantau harga eceran tertinggi (HET) untuk gula berada pada rentang harga Rp12.000 hingga Rp12.500 per kilonya.

Selain harganya yang belum bagus, petani tebu pada musim tanam ini juga masih dihadapkan dengan kelangkaan pupuk subsidi. Para petani terpaksa membeli pupuk non subsidi yang harganya dua kali lipat lebih mahal. Imbasnya ongkos produksi bertambah sehingga mengurangi pendapatan.

Baca Juga :   Dispertan Pati: Kedelai Lokal Lebih Aman Dikonsumsi

“Petani kemarin juga mengeluhkan pupuk. Kemarin kita ajukan ZA 600 kilo, Phonska 400 kilo, pada saat diajukan RDKK dikurangi. Jadinya alokasi ZA 75% dan Phonska 35% tidak full,” katanya.

Baca juga: Tingkatkan Produksi Tebu Batangan, Dispertan Bakal Bongkar Ratoon

Jelang hari raya petani tebu di Trangkil berharap harga gula naik sehingga keuntungan petani dari tanaman tebu dapat meningkat.

Di kecamatan Trangkil sendiri mempunyai lahan tebu seluas 622 hektar. Area tersebut tersebar di 5 desa diantaranya Desa Pasucen, Trangkil, Ketanen, Mojoagung, dan Karanglegi dan dikelola oleh 200an petani.

Per hektar lahan tersebut kata Sutrisno mampu menghasilkan tebu seberat 750 hingga 800 kuintal. (Adv)

Baca Juga :   Cuaca Buruk, Nelayan Dukuhseti Memilih Tidak Melaut

Baca juga: Petani Trangkil Risau Muncul Wacana Alokasi Pupuk Dibatasi

 

Jangan lupa kunjungi media sosial kami, di facebook, twitter dan instagram

Redaktur: Ulfa PS

Diskominfo Pati Gelar Pertunjukan Ketoprak Virtual dalam Upaya Tekan Peredaran Rokok Ilegal

Komentar

Berita Terkait