Pati, Mitrapost.com – Diperpanjangnya kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro membuat perdagangan kaki lima (PKL) mengeluh.
Kebijakan ini dikritik oleh beberapa pedagang. Salah satunya, penjual angkringan milik Irnawati di Jalan Dr. Susanto Pati. Menurutnya, kebijakan tersebut tidak adil dan tidak efisien.
“Kenapa hanya pedagang kecil yang dipukul? Lha pabrik masih buka. Bahkan ada ribuan karyawan di sana,” keluhnya.
Dengan adanya PPKM ini, Irna hanya bisa pasrah. Diakuinya, pendapatannya turun lebih dari 50 persen. “Apa yang bisa saya lakukan, Mas. Itu tidak bisa melakukan apa-apa. Saya hanya bisa menuruti saja,” imbuhnya.
Dia menjelaskan mengapa pendapatan dari bisnisnya menurun. Umumnya, pedagang seperti dia membuka dagangannya di malam hari, pukul lima sore. Pada jam sembilan malam dikatakan ditutup oleh pemerintah.
“Kalau berangkat pagi-pagi tidak bisa, Mas. Mungkin sama. Karena rata-rata pengunjung hits di malam hari. Pagi dan sore sepi,” jelasnya.
Irna pun bertanya kenapa pembubaran hanya dilakukan malam hari. Menurutnya, virus tidak hanya menyebar dalam semalam.
“Ini kurang efisien. Menanggung pemerintah ini. Covid-19 tidak hanya menyebar di malam hari. Tapi sesekali. Bisa pagi, siang, dan sore,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah bisa mengkaji ulang kebijakan tersebut. Jika dipaksakan, harus merata, bukan setengah-setengah. “Setidaknya tidak akan ditinjau lagi. Misalnya jika diminta tutup, akan diberikan sembako atau bantuan lainnya. Jadi ada solusinya,” ujarnya.
Tim Redaksi Khusus Video dan Konten






