Mitrapost.com– Taliban jatuh miskin lantaran kehabisan uang dan kelaparan masal yang memburuk, hal tersebut menyebabkan pihak Taliban mendesak adanya pencairan asset-aset cadangan Afghanistan yang berjumlah miliaran dolar.
Seorang juru bicara Kementerian Keuangan rezim Taliban mengatakan asalkan mendapat kucuran uang dari asset yang dibekukan, Afghanistan akan memperlakukan perempuan dengan baik.
Afghanistan memang menyimpan aset miliaran dolar di bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, dan beberapa bank sentral di Eropa.
Namun asset-aset yang berada di bank Amerika tersebut telah dibekukan lantaran pemerintahan Afghanistan telah digulingkan oleh Taliban.
“Uang itu milik negara Afghanistan. Berikan kami uang kami sendiri,” kata juru bicara Kemenkeu Afghanistan, Ahmad Wali Haqmal kepada Reuters.
“Membekukan uang ini tidak lah etis dan bertentangan dengan semua hukum dan nilai internasional,” paparnya menambahkan.
Haqmal mengatakan Afghanistan akan mengizinkan perempuan mendapat pendidikan, meskipun tidak di ruang kelas yang sama dengan laki-laki.
Ia juga mengungkapkan akan menghormati hak asasi manusia tetapi dalam kerangka hukum Islam, apa yang dibenarkan dan tidak dibernarkan. Hal tersebut tidak mencakup LGBT.
“LGBT… Itu bertentangan dengan hukum Syariah kami,” katanya.
Seorang pejabat tinggi bank sentral Afghanistan mengaku telah meminta negara-negara Eropa termasuk Jerman untuk mencairkan sebagian aset negara Asia Selatan itu.
Pejabat itu mengatakan pencairan aset menjadi krusial demi mencegah perekonomian Afghanistan kolaps.
Hal tersebut akan memperburuk krisi pengungsi, karena warga Afghanistan banyak yang berpindak ke Eropa.
“Situasinya putus asa dan jumlah uang tunai berkurang. Saat ini masih ada kas uang tunai yang cukup untuk menjaga Afghanistan sampai akhir tahun,” kata seorang anggota dewan Bank Sentral Afghanistan, Shah Mehrabi.
“Eropa akan terkena dampak paling parah jika Afghanistan tidak mendapatkan akses ke aset-aset uang ini,” ucapnya menambahkan.
Mehrabi mengungkapkan Afghanistan membutuhkan U$150 juta setiap bulan dalam menstabilkan kurs mata uang dan mencegah krisis.
“Jika cadangan tetap beku, importir Afghanistan tidak akan mampu membayar pengiriman mereka, bank akan mulai runtuh, makanan akan menjadi langka, toko kelontong akan kosong,” kata Mehrabi.
Mehrabi berharap bahwa negara Eropa mau mencairkan aset-aset Afghanistan. (*)
Artikel ini telah tayang di CNN Indonesia dengan judul “Taliban Kehabisan Uang, Desak Cairkan Aset Afghanistan di AS-Eropa”