Pati, Mitrapost.com – Dalam masa reses Anggota Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Warsiti yang digelar di Desa Wegil Kecamatan Sukolilo, warga setempat mengeluhkan harga beras yang anjlok saat puncak panen raya.
Warsiti menerangkan, pekan ini petani Wegil telah memulai panen padi di Musim Tanam pertama (MT-1). Dikarenakan panen hanya terjadi di beberapa tempat, sehingga harganya cukup mahal.
Namun diperkirakan, saat panen raya dalam dua sampai tiga minggu mendatang, penjualan hasil panen akan mengalami penurunan atau anjlok.
“Kemarin itu kepingin ada bagaimana pemerintah menstabilkan harga hasil tani. Sebentar lagi kan ada panen raya bagaimana mereka menginhkan pemerintah bisa andil. Menekan harga sehingga tidak terlalu merosot,” kata Anggota Dewan dan Politisi di Partai Hati Nurani Rakyat itu, Senin (24/1/22).
Warsiti mengungkapkan, kenaikan harga beras yang signifikan saat panen raya tak hanya diperoleh dari laporan masyarakat Desa Wegil, melainkan dari peninjauan langsung.
Menurutnya, anjloknya harga beras sudah menjadi hukum pasar. Saat produksi panen melimpah, permintaan akan beras menurun, sehingga harga gabah ikut turun.
“Kondisinya produksi bagus kendalanya harga. Kalau sekarang hasil MT-1 pasti dijual untuk menanam lagi tanam kedua sehingga. Itu yang dibutuhkan biaya. ini tidak bisa ditanggulangi karena ini kan pasar. Mesti anjlok nantinya, tapi baru saja harga pada naik. Nanti panen raya anjlok,” terang Anggota Fraksi Nurani Keadilan Rakyat Indonesia (NKRI) itu.
Dilansir dari Dispertan Pati, Harga gabah kering giling (GKG) pekan ini cukup tinggi dan berada di rentang harga Rp4. 600-Rp4.800, lebih tinggi dibandingkan Harga Pokok Produksi (HPP) yang hanya Rp4.050.
Meski harga beras naik turun, menurut pengamatan Warsiti, sektor pertanian masih bisa bertahan pada tahun ini, ditandai dengan produksi panen yang stabil bahkan surplus. (*)
Wartawan Area Kabupaten Pati






