Pati, Mitrapost.com – Sejumlah petani di wilayah kabupaten Pati mengeluhkan keterbatasan jumlah pupuk subsidi. Hal ini lantas menyebabkan biaya produksi semakin mahal.
Dengan adanya keluhan petani tersebut, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Komisi B, Nur Sukarno mengatakan perlu adanya kemudahan akses permodalan.
“Jadi ketidak pastian perlu kecermatan yang sangat intens termasuk bisa menekan biaya produksi, dan akses permodalan bisa di permudah dengan bunga yang rendah,” ucapnya kepada Mitrapost.com hari ini.
Sehingga ia mengharapkan pemerintah untuk turut serta membantu para petani tebu untuk tetap bertahan di tengah kondisi perekonomian saat ini.
Menurutnya, pemerintah perlu mengkaji ulang tentang kebutuhan pupuk, rantai tata niaga pergulaan, akses permodalan dengan bunga kompetitif sehingga gairah pekebun Tebu menjadi lebih baik dan bisa sejahtera.
Sementara itu, petani tebu Haryono (49) ketika ditanya bagaimana harapannya terhadap suasana panen tebu ini yakni mengenai harga gula. Ia mengatakan jika harga gula dari pabrik untuk saat ini Rp11.500, harga tersebut jauh dari apa yang diharapkan.
“Kalau tebu itu tidak hanya sekedar menggiling, tapi ada rewardnya mbak. Rewardnya ada MBS, kalau Natura jelas ada 5kg per kwintal,” ucap Tri Yulianto kepada Mitrapost.com.
Ia menuturkan, dalam setiap kali panen dapat menghasilkan sekitar 800 – 850 kwintal per hektar dengan sistem rawat teratur (RR), sedangkan jika dengan sistem bongkaratun atau tanaman baru (BR), bisa menghasilkan sekitar 1.000 – 1.200 kwintal per hektar.
Sehingga, harapan dari petani mendapatkan harga yang komprehensif antara biaya produksi yang dikeluarkan. (*)
Redaksi Mitrapost.com






