Pati, Mitrapost.com – Nelayan rajungan di Kabupaten Pati seperti dalam peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga. Belum selesai dengan anjloknya harga, kini nelayan rajungan tidak bisa melaut karena cuaca ekstrim.
Koordinator nelayan Desa Bumirejo Juwana yang juga pencari rajungan mengarahkan para nelayan sudah tidak melaut sejak Sabtu (24/12) akibat gelombang tinggi.
“Ini untuk sementara nelayan belum bisa melaut dengan adanya cuaca extrim gelombang besar mas. Mulai hari Sabtu kemarin mas. Kalaupun ada yang melaut paling satu atau dua orang mas,” ujar Daman saat dihubungi Mitrapost.com, Rabu (28/12/22).
Sambil menunggu cuaca kembali normal, para nelayan rajungan hanya dapat memperbaiki kapal serta alat tangkapan mereka.
“Untuk alternatifnya sementara untuk merbaiki jaringnya mas,” ujarnya.
Ditanya tentang harga jual rajungan, diakui Daman tahun ini kondisi nelayan di Pati cukup terpuruk. Diceritakan, harga rajungan mulai turun deras sejak bulan Mei 2022 yakni Rp15 ribu per kilogram. Padahal sebelumnya rata-rata harga rajungan berkisar Rp125 ribu/kg.
Sementara bulan ini harga rajungan masih diangkat Rp45 ribu. Ada kenaikan meski tidak signifikan.
“Nggih mas untuk hari kemarin harga Rp50 tapi 3 hari yang lalu turun lagi sampai sekarang turun tinggal Rp45 ribu,” katanya.
Sayangnya selain harga harganya yang belum normal, sejak musim penghujan tangkapan nelayan berkurang dari 10-15 kilogram per hari kini turun menjadi 5 kilogram.
Sementara Taryadi, Fungsional Pengelola Produksi Perikanan Tangkap, DKP kabupaten Pati saat diwawancarai terpisah menjelaskan, anjloknya harga rajungan dipengaruhi oleh berkurangnya permintaan impor olahan rajungan.
Macetnya keran impor tersebut diterngarai akibat perang berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina.
“Belum tahu persis faktor macet impornya. Tapi dampak nya ke arah situ, perang Rusia Ukraina,” ungkap Taryadi. (*)
Wartawan Area Kabupaten Pati






